Tags Posts tagged with "Samsung"

Samsung

ilustrasi iPhone 8

Samsung menggenjot produksi layar OLED tahun ini sekaligus menguatkan rumor bahwa Samsung memproduksi layar iPhone 8. Sebelumnya, beredar rumor iPhone 8 akan mengusung layar lengkung OLED, mirip Galaxy S8.

“Berkat OLED, pendapatan akan tumbuh tahun ini, menyusul peningkatan permintaan layar OLED pada kuartal dua,” ujar Samsung dalam laporan keuangannya, seperti dikutip Pocket-Lint.

[BACA: Inikah Wujud iPhone 8? Nyaris Tanpa Bingkai dan Kamera Depan]

iPhone 8 akan menjadi satu-satunya model premium tahun ini. Rumor lainnya menyebutkan iPhone 8 akan ditemani oleh iPhone 7s dan iPhone 7s Plus.

Sementara itu, Samsung pun akan meluncurkan satu kejutan lagi smartphone flagship pada kuartal kedua tahun ini yaitu Galaxy Note 8. Samsung pun sudah membuat layar OLED untuk pabrikan lainnya

Dari sisi pendapatan, Samsung sukses menjadi pemimpin pasar dalam sektor chip memory, smartphone, dan televisi pada kuartal pertama tahun ini.

[BACA: Didera Masalah, Laba Samsung Malah Bertambah]

Pemesanan smartphone Galaxy S8 pun sukses mencetak rekor baru dan melebihi ekspektasi pengamat sehingga memberikan secercah harapan ke Samsung, terkait insiden recall Galaxy Note 7.

Namun, pemasalahan kecil Galaxy S8 seperti layar berwarna merah-kemerahan dan koneksi WiFi membuat Samsung harus meluncurkan software untuk memperbaikinya.

“Memasuki kuartal kedua, Samsung mengharapkan pertumbuhan yang meningkat dari chip memory dan penjualan Galaxy S8 dan S8+,” ucap Samsung seperti dikutip Venture Beat.

Samsung pun dinobatkan sebagai perusahaan yang sangat bernilai di Asia dengan nilai kapitalisasi pasar senilai 9,9 triliun won atau US$8,75 miliar. Ini merupakan pencapaian tertinggi mereka sejak tahun 2013.

Ilustrasi Galaxy Note 7

Selepas menarik Galaxy Note 7 dari peredaran, Samsung akan menjual kembali Galaxy Note 7 versi rekondisi atau daur ulang di beberapa negara secara terbatas, termasuk di Korea Selatan, pada akhir Juni 2017.

Samsung mengatakan ada sebanyak 4,3 juta unit Galaxy Note 7 yang akan direkondisi sehingga mengurangi limbah perangkat elektronik dan tidak membahayakan lingkungan.

Ada tiga tahap dalam proses rekondisi Galaxy Note 7. Pertama, menyelamatkan komponen yang tidak berbahaya seperti modul kamera dan semikonduktornya.

Kedua, mengekstraksi bagian logam dengan bantuan dari perusahaan pihak ketiga yang ramah lingkungan.

Terakhir, menjual ponsel yang sudah direkondisi ke negara-negara yang regulasinya memperbolehkan.

Galaxy Note 7R

Menurut laporan, phablet Galaxy Note 7 versi daur ulang akan bernama Galaxy Note 7R dan akan tersedia melalui semua operator besar di Korea Selatan, seperti dikutip Android Authority.

Tetapi, rumor soal penamaan ini belum dikonfirmasi Samsung. Informasi resminya baru bisa diketahui sekitar satu bulan ke depan.

Sebagai perangkat hasil daur ulang, Samsung Galaxy Note 7R memiliki baterai berkapasitas lebih kecil daripada versi aslinya, antara 3.000 mAh sampai 3.200 mAh. Namun, Galaxy Note 7 versi daur ulang itu sudah berjalan pada Android 7.0 Nougat.

Tentunya, Samsung akan membanderol Galaxy Note 7R lebih murah daripada versi aslinya. Galaxy Note 7R akan dijual senilai 700.000 Won (USD 620) atau sekitar Rp8,2 juta, lebih murah Rp3 jutaan ketimbang harga Galaxy Note versi asli senilai 988.900 won atau Rp11 jutaan.

Menurut survei, peminat Galaxy Note 7 versi daur ulang masih sangat tinggi, menyusul saat ini Samsung fokus menjual Galaxy S8 dan S8+ serta akan meluncurkan Galaxy Note 8 pada tahun ini.

 

Ilustrasi Galaxy S9 dengan Snapdragon 845

Samsung pun tidak mau berlarut-larut tenggelam dalam euforia Galaxy S8 dan S8+. Samsung dan Qualcomm langsung mengembangkan chipset untuk Galaxy S9 yang akan hadir tahun depan.

Kedua perusahaan akan mengembangkan chipset Snapdragon 845 yang lebih bertenaga dan kencang dari chipset terkuat saat ini yaitu Snapdragon 835 dan Exynos 8895.

Hebatnya, Samsung dan Qualcomm akan memproduksi chipset Snapdragoon 845 degan fabrikasi 7nm di pabrik milik Samsung dan TSMC. Padahal, Snapdragon 835 saat ini menggunakan fabrikasi 10 nm.

Sebelumnya, Divisi LSI Samsung sendiri berjanji akan mulai memproduksi massal chip 7 nm pada awal 2018 seperti dikutip Phone Arena.

Samsung dan Qualcomm langsung mengebut pengembangan prosesor 845 Galaxy S9 sejak dini lantaran performa baterai Galaxy S8 dengan prosesor Exynos jauh lebih irit daripada Galaxy S8 versi Snapdragon.

Karena itu, Samsung dan Qualcomm masih mempunyai pekerjaan rumah untuk mengoptimasi performa prosesor Snapdragon di lini perangkat Galaxy S.

Padahal, chipset 10nm generasi terbaru itu menawarkan peningkatan kinerja sebesar 10 persen dan pengurangan konsumsi daya sebesar 15 persen.

Saat ini smartphone yang sudah mengusung prosesor 835 baru Samsung Galaxy S8 dan S8+ serta Xiaomi Mi 6.

Samsung Galaxy S8 dan S8+.

Samsung Galaxy S8 dan S8+ sukses mencetak rekor pemesanan dan mengalahkan pemesanan Galaxy S7 dan S7 Edge pada tahun lalu.

Hal itu membukti insiden recall Galaxy Note 7 tidak menyurutkan niat pengguna dan penggemar Samsung di seluruh dunia untuk membeli Galaxy S8 dan S8+.

Jumlah pemesanan Galaxy S8 dan S8+ meningkat 30 persen dibanding Galaxy S7 dan S7 Edge pada tahun lalu. Jumlah pemesanan Galaxy S8 dan S8+ di Korea Selatan sudah mencapai 550.000-an sejak dua hari kemunculannya.

Dalam empat hari sejak pre-order Galaxy S8 dan S8+, Samsung berhasil mendapatkan pemesanan Galaxy S8 dan S8+ sebanyak 700 ribu pemesanan di Korea Selatan.

“Dalam dua hari kami menembus 500 ribu pesanan. Bahkan pada Rabu (12 April 2017), Galaxy S8 dan Galaxy S8+ sudah mampu menembus 728 ribu unit,” kata DJ Koh (Head of Samsung Mobile Business) seperti dikutip Phone Arena.

Ilustrasi Samsung Galaxy S8 1

Angka itu jauh lebih tinggi dari jumlah pemesanan Galaxy S7 dan S7 Edge sebanyak 100.000-an pada periode serupa. Galaxy Note 7 pun cuma dipesan 200.000-an orang selama dua hari pasca pre-order pada akhir tahun lalu.

“Kami menargetkan sebelum pre-order ditutup, pemesanan Galaxy S8 dan S8+ bisa menjual sekitar 1 juta unit di Korea Selatan,” ucapnya.

Bagaimana, keadaan pre-order Samsung Galaxy S8 dan S8+ di negara lainnya.

“Yang pasti di beberapa negara seperti Amerika Serikat, pre-order Galaxy S8 telah melebihi pendahulunya,” pungkasnya.

Ilustrasi Samsung Galaxy S8 1

Tim Baxter (Presiden dan COO Samsung di Amerika) mengatakan, “Kami percaya produk yang hebat dan dinikmati jutaan orang adalah sebuah kebanggaan tersendiri,”.

Sejauh ini, belum ada keluhan fatal terkait kedua smartphone flagship tersebut. Di Indonesia, kedua smartphone itu akan dikirim ke pemesan pertama pada 5 Mei mendatang.

“Kami bertujuan untuk mendorong batas-batas dari apa yang mungkin atas nama pengalaman yang lebih baik, lebih pintar, dan lebih menarik bagi konsumen kami,” ujarnya.

Ilustrasi Galaxy S8 Dibakar

Tahun ini, banyak smartphone-smartphone flagship bermunculan yang menawarkan bodi tangguh berlapis kaca seperti Galaxy S8, LG G6, dan HTC U Ultra.

Smartphone flagship Samsung Galaxy S8 tidak hanya mengandalkan kecanggihan dan kemewahan semata tetapi juga ketangguhan.

Salah satu channel YouTube yang “doyan menyiksa” JerryRigEverything memakan korban baru yaitu Galaxy S8 seperti dikutip SlashGear.

Samsung Galaxy S8 akan melewati berbagai tahap “penyiksaan”. Seberapa tangguhkan Galaxy S8 menahan siksaan?

Pada test pertama, JerryRigEverything menggores layar Galaxy S8 dengan koin atau kunci mobil. Hasilnya, layar Galaxy S8 tetap terlihat mulus berkat perlindungan Gorilla Glass 5 pada bagian layar lengkungnya.

Ketika menggores body belakang, baru terlihat beberapa goresan halus disana. Sayangnya, bingkai kamera dan sensor sidik jari mudah sekali tergores. Kemudian, layar Galaxy S8 itu sangat mudah tergores dengan cutter baik di layar dan belakang.

Hebatnya, layar AMOLED Galaxy S8 tidak mempan di dibakar walaupun ada noda hitam di layarnya. Noda hitam itu akan hilang secara otomatis.

Samsung resmi meluncurkan “duet maut” smartphone flagship Samsung Galaxy S8 dan S8+ dalam acara bertajuk Galaxy Unpacked 2017 di David Gaffen Hall, Lincoln Center, New York, Amerika Serikat (AS).

Sesuai jadwal, Samsung Galaxy S8 dan S8+ telah resmi dipasarkan di berbagai negara mulai hari ini, 21 April 2017.

Di kampung halamannya, Korea Selatan, Galaxy S8 dilaporkan mencatat lebih dari 1 juta pemesanan selama masa pre-order. Antusiasme juga dirasakan di Amerika Serikat dengan komentar-komentar positif dari analis.

“Ponsel ini nyaman digenggam.. ini yang membuatnya sangat berbeda,” kata Bob O’Donnell (Pendiri dan Chief Analyst, Techanalysis) kepada CNBC. “Ponsel ini bisa dianggap sebagai ponsel generasi selanjutnya. Kualitasnya sangat baik. Banyak hal yang sudah diperbaiki [dari seri sebelumnya],” ujar Daniel Yoo (Head of Global Strategy, Kiwoom Securities).

Beberapa pengguna memang sempat mengeluhkan layar Galaxy S8 yang berwarna merah muda. Namun, Samsung menjawab bahwa masalah itu bisa diatasi dengan mengatur setelan layar.

Secara keseluruhan, Samsung menargetkan penjualan Galaxy S8 dan S8+ bisa mencapai 60 juta unit, melebihi rekor penjualan Galaxy S7 tahun lalu sebesar 48 juta unit.

Membandingkan Kinerja Galaxy S8 Versi Global dan Versi AS

Yang menarik, GSMArena mengungkapkan bahwa Samsung Galaxy S8+ yang dipasarkan di AS ternyata memiliki kinerja lebih rendah daripada Galaxy S8+ versi global.

Seperti diketahui, Samsung memasarkan dua varian Galaxy S8 dengan perbedaan prosesor. Galaxy S8 yang dijual di AS diotaki prosesor Snapdragon 835, sedangkan Galaxy S8 versi global diperkuat prosesor Exynos 8895. Sebetulnya, masih ada satu varian lagi, yaitu Galaxy S8 dengan prosesor Exynos 8895, RAM 6 GB, dan ROM 128 GB. Tetapi, varian itu hanya tersedia di Tiongkok.

[BACA: Ini Keunggulan Prosesor Exynos 8895 pada Samsung Galaxy S8]

Sebagai informasi, chipset Snapdragon 835 terdiri dari delapan inti Kryo 280; empat inti bekerja pada kecepatan 2,35 dan empat inti lainnya 1,9 GHz, didukung kartu grafis Adreno 540. Sementara itu, chipset Exynos 8895 memuat empat inti M1 “Mongoose” V2 2,3 GHz dan empat inti Cortex-A53 1,7 GHz, ditambah kartu grafis Mali-G71 MP20.

GSMArena pun mencoba membandingkan performa Galaxy S8+ versi AS dan global dengan mengadakan sejumlah uji benchmark populer, mencakup Geekbench, AnTuTu, GFX, dan Basemark.

Pada pengujian kinerja CPU dengan Geekbench 3 dan 4, Galaxy S8+ versi global unggul tipis di semua tes, kecuali Geekbench 3 single-core. Begitu pula dengan tes AnTuTu 6 di mana Galaxy S8+ versi global mencatat skor lebih tinggi ketimbang versi AS.

Sedangkan pada pengujian kinerja grafis dengan GFX 3.1 dan Basemark X/ES 3.1, keunggulan Galaxy S8+ versi global cukup jauh melampaui Galaxy S8+ versi AS.

Secara keseluruhan, Galaxy S8+ versi global berhasil unggul di hampir semua pengujian, kecuali Geekbench 3 single-core dan AnTuTu 5. Dengan catatan, keduanya merupakan benchmark versi lawas.

Ilustrasi Samsung Galaxy Book

Samsung resmi memasarkan komputer tablet 2-in-1 Samsung Galaxy Book yang disiapkan untuk menyaingi Apple iPad Pro dan Microsoft Surface Pro.

Pertama kali diperkenalkan pada ajang MWC 2017 di Barcelona, Galaxy Book menawarkan dua varian layar, 10,6 inci dan 12 inci. Keduanya mengusung sistem operasi Windows 10 dan fitur S Pen stylus. Tablet itu juga dilengkapi sepasang porta USB C dan touchpad yang luas.

Selain pada ukuran layar, perbedaan Galaxy Book 12 inci dan 10,6 inci terletak pada kemampuan prosesor, kamera, serta kapasitas memori.

Samsung Galaxy Book 12 inci dibekali layar Super AMOLED dengan resolusi 2160 x 1440 pixel, mendukung video HDR, prosesor Intel Core i5 3,1 GHz, RAM 8 GB, SSD 128/256 GB, serta kamera belakang 13 MP + kamera depan 5 MP.

Sedangkan Samsung Galaxy Book 10,6 inci menggunakan layar LCD dengan resolusi 1920 x 1280 pixel, prosesor Intel Core m3 dual core 2,6 GHz, RAM 4 GB, eMMC 64/128 GB (ditambah selot MicroSD hingga 256 GB), dan kamera depan 5 MP.

Tablet Galaxy Book itu juga memiliki bobot yang tidak terlalu berat, hanya 650 gram untuk varian 10,6 inci dan 750 gram untuk varian 12 inci.

Samsung Galaxy Book 12 inci.

Uniknya, tablet Galaxy Book ini bisa dihubungkan dengan smartphone Samsung lewat aplikasi Samsung Flow. Berbagai notifikasi dan pesan teks yang masuk ke smartphone pun bisa muncul di tablet Galaxy Book jika kedua perangkat telah tersinkronisasi.

Bukan itu saja, pengguna juga bisa menggunakan sidik jari pada ponsel Samsung Galaxy untuk membuka kunci Galaxy Book.

Samsung Galaxy Book dibanderol dengan harga US$629,99 (sekitar Rp8,3 juta) untuk varian 10,6 inci dan US$1.129,99 (sekitar Rp15 juta) untuk varian 12 inci. Tersedia pula versi Galaxy Book 12 inci dengan koneksi LTE seharga US$1.299,99 (sekitar Rp17,3 juta).

Harga tersebut memang lebih tinggi ketimbang Surface Pro 4, tetapi dikompensasi dengan prosesor lebih mutakhir serta paket penjualan yang sudah termasuk pena stylus dan pelindung keyboard. Tertarik membelinya? Silakan kunjungi situs Samsung.com, Best Buy, dan Verizon mulai tanggal 21 April 2017 atau toko-toko retail mulai 21 Mei 2017.

Ilustrasi Samsung Galaxy S8 yang berwarna merah

Para pengguna Samsung Galaxy S8 dan S8+ asal Korea melaporkan permasalahan layarnya yang berubah menjadi kemerah-merahan.

Ada beberapa pelanggan di Korea Selatan yang sudah pre-order Samsung Galaxy S8 dan memposting layar S8 yang berubah menjadi merah foto di media sosial.

Samsung beralasan layar kemerahan itu bukanlah sebuah kerusakan tetapi Samsung mengatur tingkat keseimbangan warna merah dari layar smartphone tersebut. Samsung Galaxy S8 dan S8+ adalah smartphone pertama yang mengusung teknologi “Deep Red” OLED.

“Layar Galaxy S8 yang berwarna merah bukanlah masalah kualitas dan bisa diperbaiki melalui menu setting,” kata juru bicara Samsung seperti dikutip CNET.

John Legere (CEO T-Mobile) mengatakan warna semi-magenta di layar Samsung Galaxy S8 dan S8+ menjadi daya tarik tersendiri bagi smartphone tersebut. Namun, bagaimanapun warna kemerahan di Galaxy S8 dan S8+ tetap menimbulkan keresahan bagi beberapa pengguna.

Foto Samsung Galaxy S8 dan S8+ dengan layar merah telah diposting di Instagram, forum tekno Korea Selatan seperti RullWeb dan Ppomppu yang mengeluhkan kalau mereka tidak bisa memperbaiki layar merah di setting menu.

Countepoint Analis Riset Neil Shah melihat perubahan warna layar Galaxy S8 menjadi merah adalah masalah kalibrasi perangkat lunak.

Masalah itu bisa menambah citra buruk Samsung. Tahun lalu, Samsung juga menghadapi permasalahan Galaxy Note 7 yang gagal meraih kesuksesan dengan kasus ledakan baterai.

Prototipe Galaxy S8 dengan dual camera di bagian belakang.

Setelah mengumumkan kehadiran smartphone flagship Galaxy S8 dan S8+ bulan lalu, Samsung sedang bersiap meluncurkan phablet mereka, Galaxy Note 8, yang tentu saja diharapkan bisa mengobati kegagalan pendahulunya, Note 7.

Baru-baru ini, blogger teknologi asal Rusia, Eldar Murtazin, mengunggah dua foto yang ia ambil dari forum Weibo yang dipercaya sebagai prototipe awal Samsung Galaxy S8+. Menariknya, desain prototipe ini agak berbeda dengan desain akhir Galaxy S8.

Seperti dilansir Inquisitr, perbedaan pertama terletak pada kamera belakang yang mengusung sistem dual camera. Pada foto, terlihat dua buah lensa yang disusun vertikal, di atas lampu flash dan sensor detak jantung. Sedangkan Galaxy S8 dan S8+ yang dirilis kepada publik hanya memuat kamera belakang dengan lensa tunggal.

Perbedaan lainnya terjadi sebagai konsekuensi dari penggunaan lensa kamera ganda, yakni ketiadaan pemindai sidik jari di bagian belakang.

Padahal, Samsung terpaksa menempatkan pemindai sidik jari di belakang bodi Galaxy S8 dan S8+ karena menghadapi masalah produksi yang membatalkan niat awal mereka untuk membenamkan pemindai sidik jari di bawah layar. Hal ini dikritik sejumlah kalangan sebagai kesalahan desain.

[BACA: Bocoran Spesifikasi Samsung Galaxy Note 8]

Lantas, apa hubungan antara prototipe Galaxy S8 ini dan Galaxy Note 8?

Murtazin menyebutkan bahwa fitur-fitur yang ada di prototipe tapi batal dirilis dalam versi final Galaxy S8, mungkin akan disematkan Samsung pada desain akhir Galaxy Note 8.

Selain mengandalkan dual camera dan pemindai sidik jari virtual, Galaxy Note 8 juga dirumorkan bakal diperkuat prosesor Snapdragon 835, RAM 6 GB, ROM 128 GB, dan layar Super AMOLED 6,4 inci beresolusi 4K.

Samsung diperkirakan akan mengumumkan Galaxy Note 8 pada bulan Agustus 2017 dengan harga yang belum diketahui, tapi hampir dipastikan lebih tinggi daripada Galaxy S8 dan S8+.

Irfan Rinaldi (Product Marketing Samsung Mobile) menjelaskan keunggulan dari Samsung Galaxy A (2017) yang merupakan versi terbaru dari Samsung Galaxy A.

Setelah secara resmi diluncurkan di Indonesia pada bulan Februari tahun 2017 lalu, belum lama ini di Pulau Dewata, Samsung kembali menegaskan keunggulan dari smartphone Galaxy seri A (2017) -nya. Ada dua keunggulan yang disorot. Pertama adalah kemampuan kamera yang lebih baik dari versi sebelumnya (2016), sedangkan yang kedua adalah hadirnya sertifikasi IP68 yang menunjukkan jajaran smartphone tersebut tahan debu dan tahan air pada kondisi tertentu. Hal ini membuat Samsung Galaxy A (2017) bisa digunakan pada berbagai kondisi yang biasanya menjadi penghalang dimanfaatkannya suatu smartphone.

“Samsung Galaxy A (2017) itu memang dipasarkan untuk kaum aspiring pioneers. Jadi memang Galaxy A (2017) itu dibawa ke Indonesia untuk menjawab kebutuhan mereka. Dan memang kehidupan millennials ini kan sudah demanding banget kan, dia butuh gadget yang pertama dari segi fungsi, baik itu performance maupun kameranya yang bagus, tapi dia butuh juga sesuatu yang unik,” ujar Irfan Rinaldi (Product Marketing Samsung Mobile).

Seperti sebelumnya, Samsung Galaxy A (2017) juga dibagi ke dalam tiga varian, yakni Galaxy A3 (2017), Galaxy A5 (2017), dan Galaxy A7 (2017). Menilik dari spesifikasi hardware kamera ketiganya, peningkatan yang segera terlihat adalah pada resolusi kamera depan alias kamera untuk selfie maupun wefie.

Seperti generasi sebelumnya, Samsung Galaxy A7 (2017) merupakan varian tertinggi dari ketiga varian Samsung Galaxy A (2017).

Samsung Galaxy A7 (2017) dan A5 (2017) kini telah menggunakan kamera depan dengan resolusi enam belas megapixel. Sementara Samsung Galaxy A3 (2017) kini telah memiliki kamera depan dengan resolusi delapan megapixel. Pada ketiga varian Samsung Galaxy A (2016), kamera depan yang digunakan hanya memiliki resolusi lima megapixel. Samsung pun mengklaim kamera utama dan depan dari Galaxy A (2017) telah pula ditingkatkan lebih jauh sehingga bisa mengambil foto di kondisi temaram dengan lebih baik.

Sertifikasi IP68 sendiri menandakan bahwa Samsung Galaxy A (2017) memiliki proteksi level 6 terhadap debu dan memiliki proteksi level 8 terhadap cairan. Sertifikasi IP68 ini baru pertama kalinya hadir di Samsung Galaxy seri A.

Proteksi level 6 terhadap debu berarti tidak ada debu yang akan masuk ke dalam Samsung Galaxy A (2017) tatkala perangkat tersebut dioperasikan sampai delapan jam di tempat yang berdebu atau terkena debu. Sementara, proteksi level 8 terhadap air berarti Samsung Galaxy A (2017) bisa dimasukkan sepenuhnya ke dalam air sampai lebih dari satu meter. Samsung mengklaim jajaran smartphone ini bisa dicelupkan ke dalam air tawar sampai kedalaman 1,5 meter dengan durasi maksimal 30 menit.

Dengan kombinasi di atas, pengguna bisa membebaskan kreativitasnya. Pengguna misalnya bisa tetap berkreasi mengambil foto di luar ruangan saat sedang hujan, mengambil foto saat berenang maupun menyelam di kolam renang, dan mengambil foto di malam hari atau saat kondisi temaram.

Samsung Galaxy A (2017) memungkinkan pengguna untuk memotret model di dalam air tanpa khawatir smartphone bersangkutan rusak.

Samsung pun turut mengingatkan bahwa Galaxy A (2017) juga memberikan beberapa mode yang telah dioptimalkan untuk pengambilan foto bagi keperluan atau kondisi tertentu. Misalnya ada mode Food yang dirancang untuk digunakan saat pengguna mengambil foto makanan. Tersedia juga mode Pro yang memungkinkan pengaturan secara manual terhadap ISO, white balance, exposure compensation, metering, dan tentunya flash. Hadir pula floating camera button yang membolehkan pengguna untuk menggeser-geser posisi tombol shutter di layar agar lebih mudah menggapainya.

Samsung Galaxy A3 (2017) ditawarkan dengan harga Rp3.999.000, sedangkan Samsung Galaxy A5 (2017) dilepas dengan harga Rp4.999.000. Sementara varian tertingginya, Samsung Galaxy A7 (2017), dipasarkan dengan harga Rp5.999.000. Adapun pilihan warna yang dihadirkan ada empat, yakni black sky, gold sand, blue mist, dan peach cloud.

Spesifikasi dari Samsung Galaxy A (2017) sendiri bisa dilihat di sini.

 

TERBARU

Jimmy Wales (Pendiri Wikileaks)Berita hoax alias palsu telah menjadi musuh bersama masyarakat. Jimmy Wales (Pendiri Wikipedia) meluncurkan Wikitribune, sebuah portal berita berbasis komunitas...