Find Us On Social Media :

Ketika Microsoft Justru Menjelek-jelekkan Office 2019 Miliknya

By Wisnu Nugroho, Selasa, 12 Februari 2019 | 16:13 WIB

Microsoft mendorong pengguna menggunakan Office 365 dibanding Office 2019

Bicara software penyunting dokumen, software Office buatan Microsoft tentu harus menjadi fokus utama. Aplikasi utama Office seperti Word, Excel, dan PowerPoint bahkan menjadi aplikasi yang wajib dikuasai semua orang saat ini.

Software Office sendiri saat ini sudah memasuki generasi ke 10. Yang terbaru adalah Office 2019 yang dirilis September 2018 lalu.

Namun dalam sebuah iklan, Microsoft justru terkesan menjelek-jelekkan Office 2019. Dalam iklan tersebut ditunjukkan dua remaja kembar yang ditantang mengolah data di Excel, yaitu menambahkan ibukota negara bagian AS berikut populasi dan kota terbesarnya.

Perbedaannya hanya remaja pertama menggunakan Office 2019, sementara remaja kedua menggunakan Office 365.

Hasilnya, remaja kedua berhasil menyelesaikan dokumen dengan lebih cepat. Hal ini karena Excel di Office 365 memiliki function baru untuk menarik data sekunder; satu hal yang tak dimiliki Office 2019.

Menariknya, iklan ini bukan cuma satu. Microsoft merilis dua video lain yang menunjukkan kelebihan Office 365, sekaligus menunjukkan kelemahan Office 2019.

Beda Model Bisnis

Bagi Anda yang belum tahu, Office 365 adalah aplikasi Office berbasis cloud dan menggunakan sistem berlangganan. Untuk Office 365 Home, biaya berlangganannya adalah Rp.1,2 juta per tahun (atau 119.000/bulan jika Anda ingin berlangganan bulanan).

Sementara Office 2019 adalah software berbasis desktop dengan sistem pembelian putus. Artinya sekali beli, Anda bisa menggunakannya sampai kapan pun. Harga Office 2019 versi Home and Students adalah Rp.1,45 juta, sementara versi Home Business Rp.3,85 juta.

Dengan merilis iklan seperti di atas, Microsoft pada dasarnya memang mendorong pengguna beralih ke Office 365. Tentu, langkah ini memiliki tujuan khusus.

Karena berbasis langganan dan online, Office 365 memudahkan Microsoft mendapatkan pelanggan tetap. Konsumen akan sulit berhenti berlangganan karena berhenti berarti harus mencari software alternatif. Ketika muncul ketergantungan seperti itu, kontrol pun berada di sisi Microsoft. Contohnya ketika Microsoft ingin menaikkan harga, konsumen relatif akan nurut.

Lain halnya pada Office 2019. Jika misalnya tahun depan Microsoft merilis Office 2020, pilihan tetap ada di tangan konsumen. Jika konsumen tidak tertarik dengan fitur-fitur baru Office 2020, mereka memiliki pilihan untuk terus menggunakan Office 2019. Hal inilah yang terjadi selama ini, ketika masih banyak konsumen yang menggunakan Office 2010 atau 2013 meski support resminya sebenarnya sudah habis.

Langkah yang dilakukan Microsoft ini memang bukan hal yang baru. Adobe telah melakukannya untuk program penyunting gambar andalannya, seperti Photoshop atau Illustrator, melalui layanan Creative Cloud. Adobe bahkan tidak lagi menyediakan versi beli putus untuk aplikasi itu.

Menggunakan layanan berbasis cloud seperti Office 365 sebenarnya memang memiliki beberapa keuntungan. Jika ingin menambahkan fitur baru, Microsoft bisa langsung memasang di sisi server dan seluruh pengguna Office 365 bisa langsung memanfaatkannya. Dan meski berbasis cloud, pengguna sebenarnya tetap bisa menggunakan Office 365 ketika offline atau tidak terhubung ke internet.

Namun tetap saja, menggunakan layanan cloud ibarat Anda mengontrak rumah. Di satu sisi nyaman, tinggal pakai, dan (relatif) murah, namun di sisi lain harus pasrah jika pemilik kontrakan menaikkan harga kontrakan. Sementara beli putus software seperti beli rumah sendiri, ketika Anda bisa bebas menggunakan kapan saja.

Nah, pilih mana?