Find Us On Social Media :

Survei: Masyarakat Andalkan Platform Online untuk Belanja di Ramadan

By Rafki Fachrizal, Selasa, 23 Maret 2021 | 17:30 WIB

Ilustrasi Bulan Ramadan

Bulan depan, masyarakat muslim Indonesia akan memasuki bulan Ramadan. Menjadi tahun kedua Ramadan yang berlangsung di tengah pandemi, masyarakat muslim masih membatasi pelaksanaan sejumlah tradisi dan ritual Ramadhan.

Laporan dari hasil survei startup NeuroSensum bertajuk “Annual Ramadan Spending Tracker 2021” mengungkapkan 66% masyarakat merasakan ritual Ramadan yang paling berdampak adalah pelaksanaan Tarawih di masjid.

“Masyarakat masih menahan perayaan Ramadan, namun ada perubahan signifikan pada perilaku dalam melaksanakan tradisi, ritual ibadah, dan berbelanja dibandingkan dengan tahun lalu,” ujar Rajiv Lamba, CEO NeuroSensum & SurveySensum.

“Di tahun ini masyarakat sudah lebih bisa memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan selama Ramadan. Masyarakat mulai beradaptasi mencapai ‘keseimbangan’ antara mencegah penularan COVID-19 dan melakukan perayaan atau tradisi sederhana di bulan Ramadan nanti,” tambah Rajiv.

Survei NeuroSensum dilakukan dengan metode wawancara kepada 500 responden di lima kota besar di Indonesia untuk menanyakan seputar bagaimana COVID-19 mempengaruhi perayaan Ramadan mereka.

Survei dilakukan pada Februari lalu saat mereka tengah merencanakan belanja Ramadan untuk memahami belanja dan kebiasaan bertransaksi.

Lebih lanjut, berdasarkan survei tersebut, mayoritas masyarakat sudah mulai merencanakan belanja Lebaran 2021 sejak Maret 2021.

Sekitar 41% konsumen berbelanja satu bulan sebelum Ramadan, yaitu untuk barang keperluan sehari-hari dan fesyen.

Di 2-3 bulan sebelum Ramadan, 25% masyarakat sudah membeli tiket mudik dan 13% lainnya memutuskan baru akan berbelanja selama bulan Ramadan.

Di luar itu, terdapat 10% masyarakat yang merasa tidak berbelanja sama sekali untuk Ramadan tahun ini.

“Meskipun pandemi berdampak berbeda pada setiap orang, rencana perjalanan untuk Ramadan 2021 tetap tenang untuk hampir semua orang. Sementara 38% konsumen akan bepergian untuk mudik, 45% konsumen tidak akan bepergian sama sekali,” ungkap Rajiv.

Baca Juga: Gandeng EmpatKali, Zilingo Trade Hadirkan Solusi Pembayaran Baru

Data menarik lainnya dari survei ini yaitu ketika responden ditanya tentang rencana belanja mereka selama Ramadan.

Platform online menjadi saluran yang paling disukai dan diandalkan. Dibandingkan dengan 33% konsumen yang berbelanja online di bulan Ramadan 2020, tahun ini setidaknya 37% konsumen akan berbelanja online untuk kebutuhan Ramadan.

Sekitar 40% konsumen akan berbelanja bahan makanan online sementara 33% konsumen akan berbelanja untuk barang-barang lainnya.

Rajiv menyatakan, “Penggunaan saluran online telah meningkat sejak tahun lalu. Beberapa perusahaan e-commerce pun mengatakan bahwa banyak hal yang mereka harapkan terjadi dalam empat tahun ke depan telah terjadi dalam satu atau dua tahun terakhir di Indonesia. Pandemi ini mempercepat akselerasi trafik saluran online karena seluruh transformasi digital yang seharusnya terjadi dalam lima tahun ke depan telah terjadi dalam enam bulan.”

Hal tersebut diperkuat porsi belanja makanan secara online akan meningkat karena sejak Ramadan lalu hingga Ramadan ini masyarakat semakin terbiasa dengan kanal online.

Selain itu, perusahaan besar seperti Gojek, Happyfresh, dan Grab telah melihat peningkatan yang signifikan dalam lalu lintas online mereka.

“Para pemilik brand harus berhati-hati tentang apa yang mereka jual dan bagaimana caranya. Merek harus fokus pada kategori yang meningkat,” lanjut Rajiv.

“Dengan bergesernya belanja konsumen ke arah kesehatan & digital, suplemen kesehatan akan meningkat sebesar 55%. Juga, ada pertumbuhan yang signifikan dalam saluran online. Saluran online ini menjadi lebih penting dalam perjalanan belanja konsumsi masyarakat. Selain itu, pandemi telah berdampak paling besar pada penurunan Social Economic Status. Merek perlu fokus pada segmen ini dan memberikan penawaran yang membantu masyarakat berhemat,” tambah Rajiv.

Baca Juga: Bukan untuk Dijual, LG Bakal Tutup Bisnis Smartphone-nya