Tags Posts tagged with "e-commerce"

e-commerce

Kenny Ye (General Manager, Overseas Business, Alibaba Mobile Business Group)

Pengguna telepon selular di Indonesia tercatat sebanyak 161,4 juta orang, atau sebanyak 62,5% dari jumlah populasi pada akhir tahun 2016, demikian menurut data yang dirilis oleh eMarketer pada akhir Maret lalu.

Jumlah tersebut diestimasi akan mencapai 173,3 juta pada akhir tahun 2017, dimana sebanyak 67,1 juta merupakan pengguna smartphone.

Di sisi lain, Kementerian Koperasi dan UKM melaporkan bahwa pada tahun 2016, terdapat 59.262.772 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah di Indonesia, yang memberikan peluang sangat besar untuk berkontribusi terhadap perekonomian di Indonesia dengan memanfaatkan kekuatan dari pemasaran konten melalui mobile.

Latar belakang inilah yang kemudian menjadi alasan Alibaba Mobile Business Group untuk meluncurkan peluncuran platform pemasaran mobile inovatif bernama UC Ads di Indonesia.

UC Ads akan menyediakan solusi pemasaran konten cerdas, bagi perusahaan-perusahaan besar dan juga Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah yang diklaim mampu memberikan jangkauan yang akurat dan tepat bagi para mitranya.

Kenny Ye (General Manager, Overseas Business, Alibaba Mobile Business Group) menyebutkan jika Indonesia memiliki populasi yang sangat besar dan pemasaran melalui periklanan di negara ini menunjukkan potensi yang sangat besar.

Platform UC Ads pun dapat diandalkan untuk menganalisis big data yang diperoleh melalui perilaku jaringan, di antaranya untuk melacak pelanggan potensial bagi pengiklan, kemudian secara terprogram menayangkan iklan kepada target pengguna tertentu dalam sebuah skenario yang sesuai.

Namun demikian, pemasaran konten cerdas bukan hanya diprogram untuk menayangkan iklan agar dilihat oleh khalayak yang tepat dalam waktu yang tepat, namun juga dapat memberikan konten berpengaruh dan instan, sumber Key Opinion Leader, atau layanan yang dapat dipersonalisasi untuk membuat hasil pemasaran lebih efektif.

Di Indonesia, UC Ads akan berfokus untuk berinteraksi dengan bisnis dari berbagai industri, seperti pendidikan, keuangan, FMCG, e-commerce, gaming, pariwisata, hiburan, teknologi informasi, dan sektor 3C yang mencari solusi untuk menyesuaikan strategi pemasaran, dan juga UKM yang mencari layanan pemasaran mobile yang terjangkau dan dapat disesuaikan.

Dari sisi keamanan, UC Ads juga telah menjamin. “Kami merasa bahwa keamanan dan privasi merupakan dua hal yang sangat penting dan saat ini tengah bekerjasama untuk mengikuti regulasi lokal yang ada di setiap wilayah di tempat kami beroperasi,” tutur Kenny.

Kenny menambahkan, pihaknya pun menunggu otorisasi yang diperlukan dari pengguna untuk mengumpulkan data dan memiliki strandar tinggi dalam melakukan enkripsi data.

(ki-ka): Rezki Yanuar (Brand Manager Shopee Indonesia), Evy Nurmawati (Seller @Momyaisha_olshop), Mayland Hendar Prasetyo (Head of Marketing Communication Division JNE), Handika Jahja (Head of Operations Shopee).

Kampanye 10.10 Big Mobile Shopping Day yang diadakan Shopee hari Selasa (10/10) lalu, sukses besar. Sebanyak hampir 1 juta pesanan berhasil diterima dalam waktu 24 jam saja. Ini merupakan rekor baru yang berhasil diraih Shopee sejak hadir di Indonesia pada tahun 2015 lalu.

Hal ini diungkapkan pada acara Pengumuman Hasil Kampanye Shopee 10.10 Big Mobile Shopping Day yang berlangsung Kamis (12/10) di Restoran Nouvelle, Equity Tower GF, SCBD, Jakarta.

Selain itu, banyak raihan lain yang berhasil dicapai Shopee selama kampanye satu hari tersebut. Di antaranya peningkatan kunjungan apliksi yang mencapai dua kali lipat. Didukung oleh lebih dari 150.000 penjual di seluruh pelosok Indonesia dan lebih dari 30 rekan strategis termasuk Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) Indonesia, kampanye ini berhasil mencatatkan 5 juta chat.

Banyak penjual Shopee Indonesia mencatatkan penjualan yang luar biasa selama kampanye 10.10 Big Mobile Shopping Day dengan peningkatan transaksi penjual tertinggi mencapai 95 kali.

Dalam kampanye ini, kategori produk yang dengan peningkatan terbanyak adalah kategori elektronik, perlengkapan rumah tangga, dan kosmetik. Sedangkan produk-produk yang mengalami peningkatan terbanyak yaitu blender dan juicer, seprai kasur, dan lipstick.

Sekitar 95% pesanan di kampanye 10.10 Big Mobile Shopping Day 2017 berasal dari aplikasi Shopee di ponsel, yang merefleksikan pertumbuhan tren belanja online melalui ponsel diantara pengguna di Indonesia. User Interface Shopee secara khusus diciptakan untuk perangkat mobile yang memudahkan aktivitas belanja online menjadi lebih cepat dan intuitif.

Kesuksesan kampanye ini memastikan posisi Shopee sebagai perusahaan e-commerce terdepan pilihan masyarakat Indonesia. Bersama Shopee, pengguna dapat menjual atau membeli produk dengan mudah, hanya dalam waktu 30 detik, kapan pun dan di mana pun.

Indra Yonathan (Country General Manager, ShopBack Indonesia).

Ternyata, banyak masyarakat Indonesia yang lebih senang membeli pulsa telekomunikasi secara online daripada harus membeli pulsa di toko-toko pulsa dan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

Bahkan, pembelian pulsa telekomunikasi lebih laris daripada transaksi gadget dan fashion di online. Hal itu terungkap dari survei Shopback Indonesia terhadap 2.448 responden terkait perilaku belanja online mereka.

Indra Yonathan (Country General Manager Shopback Indonesia) mengatakan pembelian pulsa telekomunikasi secara online memberikan banyak kemudahan dan kenyamanan bagi masyarakat. Apalagi, banyak e-commerce di Indonesia yang sudah menjual pulsa telekomunikasi di toko onlinenya.

“Anda tidak perlu jalan keluar ke toko pulsa dan mengantri di ATM untuk beli pulsa. Anda tinggal duduk dan membeli pulsa lewat smartphone. Jauh lebih mudah dan nyaman,” katanya di Jakarta, Selasa.

“Anda pun bisa membayar pulsa lewat kartu kredit dan sekarang banyak layanan e-wallet,” ucapnya.

Pembelian pulsa selular bahkan kini menduduki peringkat pertama untuk kategori produk yang paling sering dibeli (58%), mengungguli kategori fashion (55,8%) dan gadget (49,8%). Kebutuhan utama lainnya seperti pembayaran listrik pun kini mulai mengandalkan peran eCommerce (35,5%), belum lagi pemanfaatan jasa transportasi online yang kian meningkat (83%).

Alasan lainnya, harga pulsa yang ditawarkan toko online jauh lebih murah daripada harga pulsa yang dijual di toko pulsa dan ATM. Apalagi, toko online kerap memberikan promo menarik untuk pulsa telekomunikasi.

“Jika Anda ingin beli pulsa Rp100 Ribu di ATM, maka Anda harus mengeluar uang Rp100.1500. Tapi, jika beli di toko online bisa Rp90 ribu,” pungkasnya.

 

 

Liu Qiangdong (Pendiri dan CEO, JD.com). [Foto: scmp.com]

Adalah hal yang luar biasa bila rapat pimpinan perusahaan besar sampai dihadiri oleh salah satu pelanggannya. Bahkan rapat tersebut sampai harus terlambat dimulai karena sang pelanggan ternyata datang untuk mengeluhkan layanan kurang memuaskan yang dialaminya.

Padahal masalah yang dikeluhkan oleh pelanggan tersebut tergolong sepele. Dia memesan es krim yang dijual secara online oleh perusahaan tersebut dan ketika es krim tiba, kekhawatirannya terbukti karena es krim tersebut sudah sedikit meleleh.

Agenda rapat tersebut kemudian berubah menjadi pembahasan tentang cara pengiriman es krim yang tepat agar saat tiba ke pelanggan, es krim tersebut masih beku dan dengan demikian tidak mengecewakan sang pelanggan.

Cerita di atas bukanlah cerita fiksi karena benar-benar terjadi pada rapat eksekutif perusahaan JD.com, salah satu perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok. Dan siapakah pelanggan yang sampai berani-beraninya mengganggu rapat petinggi JD.com yang pastinya tertutup bagi mereka yang tidak berkepentingan? Ternyata orang tersebut tak lain dan tak bukan adalah Liu Qiangdong alias Richard Liu, Pendiri sekaligus CEO JD.com.

Bagaimana ceritanya hingga Liu bisa menjadi pelanggan di perusahaan miliknya sendiri? Ternyata Liu memiliki prinsip bahwa untuk mengontrol kualitas layanan perusahaan, dia harus menjadi pelanggan bagi perusahaannya sendiri, bahkan pelanggan setia.

Dalam sebuah wawancara kepada Forbes Asia, Liu menyatakan bahwa sebagai seorang CEO perusahaan e-commerce yang selalu mengatakan bahwa pelanggan harus diutamakan, terlebih dahulu Anda harus menjadi pelanggan paling setia dan merasakan sendiri bagaimana layanan perusahaan Anda dari waktu ke waktu. “Jika tidak, bisa jadi nilai-nilai perusahaan hanya akan dianggap slogan kosong dalam bentuk kata mutiara yang digantung di dinding,” ujarnya.

Bagi Liu, kejadian di atas sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa karena setiap hari dia selalu menyempatkan diri untuk memesan satu atau dua item barang dari toko online miliknya sendiri untuk memeriksa kelayakan pengirimannya.

Dalam rapat perusahaan yang akhirnya membahas tentang pengiriman es krim tersebut, Liu mengatakan kepada jajaran pimpinan JD.com bahwa dia akan menunda perluasan bisnis kelontong di JD.com sampai masalah pengiriman benar-benar teratasi. Khusus untuk masalah pengiriman es krim tersebut, akhirnya diputuskan bahwa JD.com akan menambahkan ice pack lebih banyak lagi ke dalam container untuk menjaga suhu tetap rendah.

Manajer strategi perusahaan, Laura Xiong (yang baru saja bergabung dengan JD.com beberapa bulan sebelumnya setelah 23 tahun bekerja di Procter & Gamble) mengaku sangat terkejut dengan “ulah” boss barunya itu. “Dia adalah seorang yang sangat perfeksionis dan begitu memperhatikan hal-hal kecil,” imbuhnya memuji Liu Qiangdong.

Anak Pebisnis

Liu Qiangdong alias Richard Liu lahir pada tanggal 14 Februari 1974 di daerah Suqian, Provinsi Jiangsu, China. Orang tuanya memiliki usaha pengiriman batu bara dari bagian utara Tiongkok ke Selatan. Jadi jelaslah dari mana asalnya darah bisnis yang mengalir di tubuh Liu.

Semasa mudanya, Liu tertarik akan politik. Ketertarikannya akan politik tersebut membawanya berkuliah di Departemen Sosiologi, Universitas Renmin (dahulu bernama Universitas Rakyat Tiongkok atau People’s University of China). Alasan Liu memilih universitas tersebut adalah karena adanya koneksi yang kuat ke elit politik di Tiongkok.

Dalam perjalanan studinya, Liu menyadari bahwa dengan meraih sarjana sosiologi, masa depannya tidaklah begitu terjamin. Karena itu, di sela-sela waktu luangnya, Liu belajar pemrograman komputer dan berbekal keterampilan pemrogramannya tersebut, Liu berhasil mendapatkan penghasilan tambahan. Berbekal penghasilannya sebagai seorang programmer ditambah modal dari keluarganya, Liu membuka sebuah restoran. Namun sayangnya, usahanya ini hanya bertahan selama beberapa bulan saja.

Ketika akhirnya lulus dan menjadi sarjana di tahun 1996, Liu melanjutnya studinya ke China Europe International Business School dan mendalami ilmu bisnis. Pada saat bersamaan, Liu juga bekerja di Japan Life, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang produk kesehatan. Di Japan Life, Liu bekerja sebagai direktur komputer, direktur bisnis, dan supervisor logistik.

Membuka Usaha Sendiri

Pada tahun 1998, tepatnya di bulan Juni, Liu memutuskan untuk membuka usaha sendiri yang dinamainya Jingdong. Lokasinya adalah di Zhongguancun High-tech Industrial Park, Beijing. Bentuk usahanya adalah distributor alat-alat optik-magnetik.

Kali ini usahanya cukup berhasil. Terbukti, hingga tahun 2003, Liu berhasil membuka dua belas cabang di berbagai daerah. Namun lagi-lagi ujian menerpa usaha Liu. Pada tahun 2003, penyakit SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome atau Sindrom Pernapasan Akut Berat) mewabah di China dan menyebabkan banyak orang tidak bisa bekerja, entah karena dirawat di rumah sakit atau karena terpaksa bertahan di rumah supaya tidak tertular.

Namun Liu tidak menyerah dan terus memikirkan jalan keluar bagi kelangsungan usahanya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengganti model bisnisnya yang masih konvensional ke model bisnis online. Di tahun 2004, toko online-nya mulai beroperasi. Pada akhir tahun yang sama, secara resmi berdirilah JD.com. Huruf JD pada nama domain JD.com merupakan singkatan dari Jingdong. Pada tahun 2005, Liu menutup seluruh toko fisik yang masih dimilikinya dan benar-benar berfokus ke bisnis e-commerce.

Jingdong berkembang cukup pesat hingga menjadi salah satu perusahaan e-commerce terbesar di China. Pada bulan Januari 2014, Liu mendaftarkannya untuk go public. Saat IPO JD.com pada tanggal 22 Mei 2014, nilai sahamnya meroket sebesar lima belas persen.

Keteguhan hati Liu untuk “memanjakan” konsumen, sebagaimana telah disinggung di awal tulisan ini, ternyata memakan ongkos yang cukup mahal. Untuk kota-kota besar, Liu bahkan menjanjikan barang yang dibeli akan dikirimkan pada hari yang sama jika pemesanan dilakukan sebelum pukul 11.00. Itu berarti Liu harus banyak berinvestasi pada pembuatan gudang yang besar serta jumlah kurir yang banyak. Akibatnya, pada tahun pertama setelah IPO, JD.com belum mendapatkan keuntungan, malahan mengalami kerugian hingga $1,4 miliar dan nilai sahamnya anjlok sebesar dua puluh persen.

Namun Liu berhasil meyakinkan para investor bahwa badai akan segera berlalu dan JD.com pasti akan segera menjadi perusahaan yang menguntungkan.

Keyakinan Liu ternyata terbukti karena pelan tapi pasti kinerja keuangan JD.com makin membaik dan kini telah menjadi salah satu yang terbesar di Tiongkok, bersaing ketat dengan Alibaba. Dalam beberapa aspek, JD.com malahan menjadi favorit pelanggannya berkat kebijakan yang dicanangkan oleh Liu. Setelah makin mantap di negeri sendiri, JD.com kini mulai melebarkan sayap ke beberapa negara, termasuk di antaranya Indonesia melalui situs dengan domain JD.id.

Tetap Sederhana

Kesuksesan Jingdong membawa Liu menjadi orang terkaya ke-16 di Tiongkok. Meski demikian, Liu tetap rendah hati.

Dalam kesehariannya, Liu tetap berpakaian sederhana. Bahkan untuk acara yang relatif penting seperti wawancara dengan wartawan, Liu hanya mengenakan kemeja kasual dan jelana panjang kain biasa. Warna favoritnya adalah kemeja biru terang dan celana panjang coklat. Bahkan ID perusahaan juga terkalung di lehernya, seolah dia hanyalah karyawan biasa.

Liu Qiangdong dan istrinya, Zhang Zetian.

Popularitas Liu ternyata tidak hanya bergaung di kalangan pengusaha saja karena dia juga menjadi selebriti internet, khususnya di media sosial. Pasalnya, dia menikahi seorang gadis yang sangat populer di Weibo, media sosial Tiongkok pengganti Twitter.

Gadis tersebut bernama Zhang Zetian yang terkenal sebagai “Sister Milk Tea” di Weibo. Apalagi usia mereka berdua terpaut sembilan belas tahun, sehingga makin hebohlah kalangan netizen Tiongkok.

Sebelum menikah dengan Zhang Zetian, Liu telah mengalami dua kali kegagalan cinta. Cinta pertama Liu adalah sesama mahasiswa Universitas Rakyat Tiongkok, yaitu Gong Xiaojing. Kombinasi nama Gong Xiaojing dan Liu Qiangdong inilah yang menginspirasi nama Jingdong. Sayangnya, mereka berdua berbeda prinsip dalam menjalankan usaha dan akhirnya berpisah. Liu tetap melanjutkan usahanya, sedangkan Gong menjadi pegawai pemerintah.

Cinta kedua Liu adalah seorang staf senior di JD.com, yaitu Zhuang Jia. Liu dan Zhuang Jia sebenarnya tidak membuka status relasi mereka ke publik. Namun status mereka berdua akhirnya “bocor” ketika tak sengaja mereka mengunggah foto tomat di Weibo dalam selisih waktu sebelas menit saja. Follower keduanya menduga itu tomat yang sama dan berada di kebun rumah Liu.

Mereka akhirnya terpaksa mengaku telah menjalin relasi selama tiga tahun. Sayangnya, tak lama kemudian Zhuang meninggalkan JD.com sekaligus berpisah dengan Liu, tanpa meninggalkan penjelasan bagi publik.

Contoh perusahaan AS yang berjualan di platform Alibaba.

Perusahaan e-commerce raksasa Tiongkok, Alibaba, sedang meyakinkan Usaha Kecil Menengah (UKM) asal Amerika Serikat untuk bergabung dalam Alibaba.

Ada dua hal yang Alibaba tekankan kepada UKM AS, yaitu Tiongkok adalah pasar yang tepat untuk mengembangkan pasar mereka dan Alibaba mampu menciptakan satu juta pekerjaan di AS dalam lima tahun ke depan.

Untuk mewujudkan hal itu, Alibaba mengadakan acara Alibaba Gateway 2017 di kota Detroit, AS. Alibaba menargetkan 3.000 wirausaha dan pengusaha dari seluruh AS yang akan hadir dalam event Alibaba tersebut.

Alibaba menjanjikan para pebisnis UKM AS bisa memasarkan produk mereka ke seluruh dunia. Jualan online antarnegara menjanjikan pertumbuhan yang signifikan dan Alibaba akan menyediakan teknologi dan kebutuhan lainnya untuk mewujudkannya.

“Untuk pedagang AS, banyak jualan ke luar negeri dilakukan oleh penjual online asal Tiongkok. Dan Alibaba menawarkan dua marketplace dan layanan berjualan antarnegara kepada UKM AS. Harapannya, mereka bisa berjualan di Tiongkok,” kata Lily Varon (Pengamat Strategi Bisnis, Forrester) seperti dikutip USA Today.

Alibaba terus berupaya untuk mendapatkan pijakan di pasar AS. Pada 2014, Alibaba membuka 11 butik online tetapi ditutup setahun kemudian.

Memang Alibaba sangat terkenal di Tiongkok dan Asia tetapi berbeda dengan di AS. Orang AS sangat tidak familiar dengan platform jualan online Alibaba karena orang AS sudah terbiasa dengan gaya jualan Amazon yang tidak langsung menjual barang kepada pelanggan.

Sedangkan, Alibaba menghubungkan langsung antara pembeli dan penjual. Ini sangat populer di pelanggan Tiongkok dan mempunyai 443 juta pelanggan di Tiongkok.

Tidak hanya tempat jualan, Alibaba juga menawarkan sistem pembayaran, platform chatting, dan tempat untuk bermain game.

Jeremy King ( Chief Technology Officer & Senior Vice President @WalmartLabs).

Cerita transformasi digital Walmart mungkin akan berbeda jika Jeremy King bersikeras mengabaikan tawaran Walmart.

Pada awalnya, King memang tak ingin mengindahkan panggilan telpon dari recruiter Walmart pada suatu hari di tahun 2011. Pasalnya, engineer yang kondang di Silicon Valley karena prestasinya membangun infrastruktur eBay ini sudah kerap “dirayu” perusahaan pencari tenaga kerja.

Melihat kegigihan recruiter itu yang terus menerus menghubunginya, Jeremy King pun luluh hatinya dan menjawab tawaran sang recruiter. “Saya bilang begini, ‘kenapa bukan CEO-nya saja yang telepon—biarkan ia bicara dengan saya, mungkin saya akan tertarik’,” cerita Chief Technology Officer (CTO) & Senior Vice President @WalmartLabs itu seperti dikutip dari Fast Company.

King mengaku saat itu dirinya cuma pura-pura sedikit pongah. Lagipula mana mungkin pemimpin tertinggi dari retailer terbesar di Amerika sudi menelepon seorang engineer seperti dirinya?

Tak disangka, Walmart kemudian malah mengatur sebuah video conference agar CEO Walmart saat itu, Mike Duke, bisa mewawancarai langsung Jeremy King yang saat itu masih menjadi CTO LiveOps, pengembang software call center berbasis cloud.

Berbicara selama 45 menit dengan Mike Duke, pemegang gelar bachelor of science dalam bidang information systems dari San Jose State University itu menyebut tawaran Walmart sangat menarik.

Bawa Silicon Valley ke Walmart

Proses rekrutmen itu terbilang tak biasa. Tugas dan harapan yang diletakkan Walmart di pundak Jeremy King juga ternyata luar biasa.

Walmart boleh mengklaim dirinya sebagai rajanya retail di dunia nyata. Namun di dunia maya, pada lima tahun yang lalu, Walmart sekadar penantang saja. Bisnis digitalnya masih jauh ketinggalan dari dua rival terdekatnya saat itu, yakni Amazon dan Staples. Situs e-commerce Walmart tampil biasa-biasa saja, mesin pencarinya tidak intuitif. Walhasil bisnis digital itu seperti berjalan di tempat, bahkan cenderung tertinggal dari para pesaingnya.

Tak puas dengan kondisi tersebut, CEO Mike Duke mengambil langkah berani, yakni melakukan transformasi digital. Sejak lama, Walmart dikenal memiliki proses bisnis yang kaku tapi efektif. Dengan transformasi digital, toko retail yang dibangun oleh Sam Walton ini akan diarahkan menjadi sebuah perusahaan yang berkarakter seperti wirausaha, penuh dengan eksperiman, dan fleksibel. Atmosfer bisnis ala Silicon Valley ingin diciptakan Mike Duke di Bentonville, Arkansas.

Walmart menganggap Jeremy King orang yang tepat untuk mengorkestrasi inisiatif perubahan besar-besaran yang mengombinasikan kekuatan baru e-commerce, customer experience yang berbeda, dan kekuatan supply chain, satu keunggulan yang dimiliki Walmart sejak dahulu.

Ilustrasi e-commerce Walmart. [Kredit: marketmadhouse.com]

Terapkan In-House Innovation

Mengepalai @WalmartLabs, Jeremy King menerapkan prinsip bahwa setiap perusahaan adalah perusahaan teknologi (every company is a tech company).

Menurutnya, perusahaan dari berbagai sektor industri mulai berbondong-bondong beralih ke model “build” atau pendekatan in-house innovation. Perusahaan menciptakan dan mengembangkan sendiri teknologi yang mereka gunakan. Dikotomi masa lalu antara perusahaan pengembang teknologi dan perusahaan pengguna teknologi pun pada akhirnya akan makin tergerus.

Peran inilah yang dimainkan @WalmartLabs untuk mendukung kesuksesan bisnis Walmart. “Tentu saja, Walmart tidak sendirian menerapkan pendekatan in-house innovation ini. Perusahaan seperti Procter & Gamble dan Starbucks juga telah menghabiskan waktu beberapa tahun terakhir ini untuk menjadi organisasi yang technology-driven,” tulis Jeremy King dalam blog @WalmartLabs.

Menurut King, perusahaan tidak dapat mempertaruhkan pertumbuhan bisnis dengan bergantung pada vendor. “Anda tidak bisa meng-outsource inovasi. Inovasi adalah sesuatu yang seharusnya Anda miliki,” tandas King.

Di sisi lain, perubahan besar ini juga akan mencetuskan karakter kewirausahaan (enterpreneurship) dalam perusahaan dan mendorong pengembangan teknologi yang sesuai tujuan perusahaan.

Berbekal prinsip tersebut, pria yang juga menjabat CTO Walmart Store Inc. ini memulai proses transformasi dengan membangun ulang (rebuilding) teknologi untuk meraih kecepatan dan skalabilitas dengan platform open source.

“Kami menggunakan teknologi untuk melayani pelanggan dengan cara-cara baru—mulai dari membangun platform teknologi yang kuat sampai dengan mempertemukan online experience dengan toko-toko fisik yang kami miliki,” ujar Jeremy King, seperti dikutip dari PRWeb.

Andalkan Open Source

Melalui proyek bernama Pangaea yang dimulai pada tahun 2012, Jeremy King dan timnya melakukan perombakan besar-besaran terhadap berbagai hal, mulai dari cara kerja dan tampilan situs web Walmart hingga software transaksi, database, server, dan tool untuk mengelola semua itu di data center. Walmart juga membangun infrastruktur cloud dan data center baru, bahkan membuat search engine sendiri.

Jeremy King menginginkan mesin pencari yang kemampuannya lebih dari sekadar menampilkan item yang dicari pelanggan. Ia menginginkan search engine yang dapat memberikan rekomendasi terpersonalisasi (personalized recommendation) agar pelanggan tertarik membeli lebih banyak barang.

Untuk itu, mesin pencari tersebut harus memunyai kemampuan mengaitkan hasil pencarian dengan pelanggan, berdasarkan interaksi sebelumnya. Dan mesin pencari bernama Polaris berhasil dirampungkan tim @WalmartLabs dalam waktu sembilan bulan.

Walmart juga mengembangkan sendiri tool pengeloaan hybrid cloud. Dengan cloud controller bernama OneOps ini, para engineer dapat dengan mudah memindahkan aplikasi dari cloud internal ke eksternal, atau sebaliknya.

“Seiring pertumbuhan bisnis, kami membutuhkan teknologi ini untuk berinovasi dan melakukan scale up,” cetus King seperti dikutip dari ETCIO.com. OneOps juga dirilis ke komunitas open source sehingga perusahaan lain dapat memanfaatkannya agar terhindar dari vendor lock-in.

Kuncinya pada Integrasi

Ada sebuah pelajaran menarik yang didapat Jeremy King. Berpengalaman selama tujuh tahun di eBay, ia mengaku awalnya menyepelekan kompleksitas supply chain Walmart.

“Saya sangat akrab dengan sisi digital retail, tetapi ternyata Walmart lebih dari sekadar situs web. Walmart adalah persimpangan antara [retail] digital dan fisik, dan saya benar-benar meremehkan kompleksitas supply chain. Saya merekrut banyak pegawai eBay dan kami sering menyepelekan supply chain,” kenangnya.

Di Walmart, adalah sangat kritis untuk memahami ke mana paket harus bergerak di dalam gudang dan mengantarkannya ke toko dan pelanggan. Walhasil, jumlah karyawan yang bekerja di divisi supply chain dan divisi digital sama banyaknya.

Dengan eksistensi Walmart di dunia maya dan nyata, Jeremy King dan tim @WalmartLabs harus memastikan customer experience yang benar-benar mulus (seamless) antara perangkat mobilepick up, pencarian, dan delivery ke rumah pelanggan atau belanja di toko, kemampuan navigasi, dan lain-lain. Integrasi adalah kuncinya.“Kami memiliki ribuan toko di seluruh dunia dan kami harus mengintegrasikannya dengan perangkat mobile dan desktop. This is critical to our success!” tegasnya.

Ilustrasi aplikasi belanja Walmart. [Kredit: geomarketing.com]

Integrasi toko fisik dengan mobile diperoleh, antara lain, melalui kemampuan in-store mapping. Integrasi yang lebih kompleks bisa dilihat pada aplikasi Savings Catcher. Aplikasi ini memiliki kemampuan comparative intelligence untuk membandingkan harga di toko-toko retail lain, misalnya Target dan Walgreens.

Dengan aplikasi ini, pelanggan dapat memindai bon belanjanya di Walmart. Lalu, jika ternyata pelanggan membayar lebih mahal daripada harga di toko lain untuk barang yang sama, pelanggan akan menerima kartu eGift.

Untuk mengembangkan aplikasi semacam itu, Jeremy King dan timnya harus mengintegrasikan data transaksi hasil penjualan di toko fisik dan e-commerce. Dan inilah pertama kalinya, Walmart memperoleh gambaran yang kohesif tentang aktivitas pribadi yang dilakukan oleh 250 juta pelanggannya di dunia maya.

Ilustrasi belanja di Whole Foods

Amazon telah resmi membeli toko ritel makanan organik Whole Foods. Tentunya, aksi korporasi itu memberikan keuntungan kedua belah pihak. Amazon memiliki sebuah toko off-line yang memudahkan proses logistik dan Whole Foods mendapatkan upgrade teknologi dan pengalaman belanja yang lebih baik.

Jika proses akuisisi itu rampung, maka Amazon akan memiliki toko ritel sebanyak 430 buah. Saat ini pelanggan Amazon yang sebagian besar dari kalangan menengah ke atas, generasi millenial dan pelanggan Gen X sangat mementingkan faktor kesehatan dan fitness serta pengalaman belanja dan kenyamanan.

Berikut 5 hal yang akan merubah gaya belanja Anda setelah proses akuisisi tersebut seperti dikutip marketwatch:

1. Peningkatan Pemesanan Grosir Online

Seperempat rumah tangga warga Amerika Serikat (AS) membeli barang-barang grosir lewat online, menurut Food Marketing Institute and Nielsen. Pertumbuhan belanja grosir online pun akan meningkat 20 persen pada 2025, menyusul generasi anak muda AS yang sudah melek teknologi digital. Duet maut Amazon yang menguasai pasar ritel online dan toko offline Whole Foods dapat mempromosikan atau mengajak para pelanggan untuk berbelanja online.

2. Pengalaman Belanja yang Baru

Belanja online sangat menyenangkan, efisien dan menghemat waktu bagi pelanggan yang sibuk. Toko ritel Whole Foods akan memberikan pengalaman belanja yang baru, melalui makanan organik dan segar yang dipajang, aroma makanan organik yang segar dan interaksi sosial. Saat ini Whole Foods menyulap tokonya menjadi tujuan pelanggan yang ingin membeli minuman bir dan anggur serta menggelar kursus masak bagi pelanggan.

3. Cepat

Amazon dan Whole Foods akan memberikan layanan belanja yang cepat berbasis teknologi. Amazon telah membuka toko ritel Amazon Go di Seattle yang berbasis teknologi dan robot.

4. Transparan

Teknologi Amazon akan mempelajari perilaku belanja pelanggannya. Apalagi, jika Amazon memasang sensor-sensor canggih Amazon Go pada toko Whole Foods. Pelanggan yang memiliki smartphone dapat melihat kondisi dan situasi toko ritel Whole Foods sehingga Anda bisa terhindar dari antrian.

5. Harga

Harga merupakan topik yang menarik dalam kategori barang grosir karena pelanggan akan sangat sensitif dengan harga. Pelanggan akan mencari barang-barang yang terjangkau. Toko Amazon–Whole Foods akan memberikan harga barang-barang grosir yang terjangkau.

Ilustrasi Toko Whole Foods

Amazon membeli gerai makanan organik Whole Foods senilai US$ 13,7 miliar atau sekitar Rp182,19 triliun secara tunai sekaligus membuktikan kekuatan keuangan perusahaan yang dipimpin oleh Jeff Bezos tersebut.

Aksi korporasi itu juga membuktikan bahwa Amazon sangat tertarik dengan bisnis makanan pada toko ritel. “Jutaan orang menyukai Whole Foods Market karena menawarkan makanan alami dan organik terbaik. Sangat cocok untuk makanan sehat,” kata Bezos seperti dikutip BBC.

Amazon pun memastikan tidak akan mengganti nama toko Whole Foods dan John Mackey (CEO Whole Foods) saat ini akan tetap memimpin Whole Foods di kantor pusatnya di Austin, Texas, Amerika Serikat (AS).

Saat ini Amazon memiliki layanan pengiriman sendiri yaitu AmazonFresh dan sedang bereksperimen dengan model click and collect yang memungkinkan pelanggan untuk membeli bahan makanan secara online.

Penjualan ritel supermarket di AS mengalami penurunan karena tidak berdaya bersaing dengan Amazon. Sejumlah saham ritel supermarket seperti saham Kroger turun 13 persen, Walmart turun 5 persen, Saham Target, Costco, SuperValue, Sprout juga turun. Namun, saham Amazon naik 3 persen.

Whole Foods yang berdiri pada 1978 merupakan pionir dan memperkenalkan makanan organik kepada warga AS. Perusahaan itu memiliki sekitar 87 ribu karyawan dan lebih dari 460 toko yang sebagian besar di Amerika Serikat. Namun, Whole Foods juga berkembang di Kanada dan Inggris Raya.

Whole Foods pun melancarkan strategi pemasaran yang agresif ke kota-kota besar dan menyasar pembeli dari generasi milenial. Kendalanya, harga makanan di Whole Foods termasuk mahal dan menyebabkan penjualannya melambat.

Sangat menarik melihat Amazon yang memiliki reputasi harga rendah dapat mengubah Whole Foods menjadi semakin terjangkau.

Mal online Blibli.com mengakuisisi salah satu Online Travel Agent (OTA) terbesar di Indonesia, Tiket.com. Penandatanganan dilakukan oleh Kusumo Martanto selaku CEO Blibli.com (kiri gambar) dan Gaery Undarsa (kanan gambar) selaku Co Founder sekaligus Chief Communications Officer Tiket.com di Jakarta.

Perusahaan e-commerce Blibli.com resmi mengakuisisi 100 persen portal pemesanan tiket online Tiket.com. Penggabungan kedua perusahaan ini menunjukkan ambisi Blibli.com di bidang jasa agen perjalanan online setelah sebelumnya meluncurkan produk kategori travel dengan nama Blibli Travel.

Saat ini Tiket.com memiliki banyak layanan travel, termasuk produk tiket, pesawat, hotel, kereta api, sewa mobil, dan tiket konser.

Tiket.com bekerjasama dengan lebih dari 35 maskapai penerbangan internasional dan domestik. Selain itu, Tiket.com juga bekerjasama dengan ribuan hotel domestik dan internasional.

Gaery Undarsa (Pendiri dan Chief Communication Officer, Tiket.com) mengatakan saat ini Blibli.com resmi membeli Tiket.com sepenuhnya atau sebesar 100 persen. Ia yakin sinergi kedua perusahaan akan memberikan dampak positif untuk pertumbuhan bisnis keduanya.

“Akuisisinya, kami sepakat menggunakan rupiah. Tapi soal jumlahnya, kami tidak bisa mengungkapnya. Kami sadar butuh investasi untuk meraih mimpi kami. Pas ketemu (Blibli.com) ada chemistry-nya, nyambung. Ke depan kita sama-sama ingin mewujudkan mimpi dan ini 100 persen Indonesia,” katanya di Jakarta, Kamis (15/6).

Blibli.com akan memberikan dukungan penuh untuk Tiket.com, baik dari sisi share inventory, program penjualan, promosi termasuk penetrasi ke media sosial, serta memperkuat tim atau sumber daya manusia. Tidak ada perubahan manajemen dengan adanya akuisisi ini, kecuali penunjukan George Hendrata sebagai CEO Tiket.com yang baru.

Blibli.com melihat bisnis travel online adalah salah satu bisnis online yang terbesar. Pembelian produk jasa travel online mencapai 35 persen dari total transaksi online per 2016.

Pengguna e-commerce sendiri diperkirakan mencapai 3,4 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Sedangkan, pengguna internet di Indonesia mencapai 132 juta orang.

Kusumo Martanto (CEO Blibli.com) mengatakan Tiket.com memiliki rekam jejak bisnis yang bagus dan menjadi salah satu pertimbangan untuk mengakuisisinya. Selain itu, kesamaan visi dan misi pun juga merupakan faktor pendukung.

“Tiket.com memiliki track record bisnis yang bagus, di mana dalam waktu relatif singkat tumbuh menjadi salah satu OTA (online travel agent) terbesar di Indonesia, sama-sama fokus pada kepuasan pelanggan dan konsisten menjalankan bisnisnya,” tuturnya.

Tampak pada gambar dari kanan ke kiri: CEO Blibli.com Kusumo Martanto (kanan), CEO Tiket.com baru George Hendrata (tengah), dan Co-founder sekaligus Chief Communications Officer Tiket.com Gaery Undarsa (kiri)

Kusumo melanjutkan sebesar 51 persen orang Indonesia memakai internet dan 34 persennya belanja online. Selain itu, 50 persen generasi milenial membelanjakan uangnya untuk traveling.

“Kami ingin menggarap pasar traveler muda yang butuh belanja online dan liburan. Tiket.com kuat di OTA dan Blibli.com kuat di belanja online,” ujarnya.

Customer base Blibli.com dan Tiket.com sangat powerful. Nggak cuma cari tiket pesawat atau hotel, kalau konsumen butuh perlengkapan traveling seperti kacamata renang, kita juga punya. Nggak ada waktu beli oleh-oleh, kita ada. User akan semakin dimanjakan,” ucap Kusumo.

Sementara itu George Hendrata (CEO Tiket.com) mengatakan Tiket.com akan fokus meningkatkan layanan untuk konsumen traveler.

“Kita fokus ke pelanggan, pasar cukup gede. Ada waktu buat analisis lebih dalam. Sinergi backend frontend. Pada waktunya, kita akan kasih tahu teman-teman,” ucapnya.

Blibli.com merupakan situs e-commerce yang didirikan pada Juli 2011 oleh PT Global Digital Niaga (GDN), yang merupakan anak perusahaan PT Global Digital Prima (GDP) milik Martin Hartono.

PT Global Digital Prima (GDP) sendiri merupakan bagian dari perusahaan rokok terbesar di Indonesia, Djarum Group. Selain itu, grup itu juga menjadi pemegang saham beberapa bisnis online seperti situs Kaskus, Beritagar.id, Dailysocial.id, dan inkubator Merah Putih Inc.

“Dengan adanya akuisisi ini tentunya akan menjadikan Blibli sebagai sebuah grup perusahaan e-commerce dengan pelayanan one-stop shop dan juga memberikan manfaat lebih bagi pelanggan,” tutup Kusumo.

Aplikasi BBM di berbagai smartphone.

Sale Stock, platform e-commerce Indonesia yang fokus pada busana wanita menggandeng BBM untuk menyediakan layanan belanja dengan antarmuka percakapan melalui BBM Channel.

“Ini merupakan kolaborasi pertama BBM dengan e-commerce yang menggunakan fitur baru, BBM Chat API. Fitur BBM Chat API memungkinkan pelaku bisnis dan brand melakukan interaksi dua arah dengan pelanggan,” kata Lingga Madu (CEO dan Pendiri Sale Stock Indonesia) dalam siaran persnya, Senin.

Lingga mengatakan saat ini pelanggan dapat mengajukan pertanyaan dan melakukan pemesanan melalui agen layanan pelanggan Sale Stock di BBM. BBM akan meneruskan percakapan tersebut ke perangkat lunak Sale Stock dan mengarahkan mereka ke agen layanan pelanggan.

“Sale Stock senantiasa berupaya memberikan akses ke produk fashion berkualitas dengan harga terjangkau kepada masyarakat yang sebelumnya tidak pernah menikmati akses tersebut,” ujarnya.

Sale Stock adalah mitra e-commerce pertama di dunia yang menawarkan layanan dan penjualan melalui fitur obrolan di BBM sesuai kebutuhan. Hal itu memungkinkan pelanggan untuk menerima tanggapan langsung, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu.

Pelanggan akan mendapatkan penawaran barang (baik pakaian maupun aksesoris) dengan harga terjangkau dan bisa mendapatkan gratis biaya pengiriman ke seluruh Indonesia.

Pembayaran pun dapat dilakukan dengan berbagai metode pembayaran yang aman, termasuk melalui transfer bank, pembayaran di gerai Indomaret, serta pembayaran di tempat (cash on delivery/COD) untuk 2.400 daerah di Indonesia. Pelanggan dapat berbelanja dengan aman, karena ada jaminan uang kembali dalam 30 hari.

Kini BBM telah berkembang dari aplikasi pesan sederhana berisi teks dan video menjadi sebuah ekosistem sosial yang menyatukan layanan chatting, sosial, perdagangan dan jasa, termasuk pembayaran tagihan, top-up, voucher/kupon, game, berita, video belanja, travel, karir, dan polling.

“BBM merupakan aplikasi messaging paling banyak diunduh dan digunakan di Indonesia. Kami ingin mengubah BBM dari sekadar alat real-time chatting antara dua orang menjadi sebuah platform mobile yang canggih,” kata Matthew Talbot (CEO Creative Media Works) perusahaan yang mengoperasikan dan menjalankan BBM secara global.

“Orang lebih banyak menghabiskan waktu di ponsel untuk mengakses aplikasi pesan, kami melihat semakin banyak brand dan perusahaan mencoba untuk terhubung dengan target pasar mereka melalui aplikasi seperti BBM,” tambah Talbot.

TERBARU

Presiden Direktur CTI Group Harry SurjantoSaat ini pemerintah Indonesia sedang giat membangun infrastruktur seperti jalan-jalan tol di Indonesia termasuk juga tol laut. Namun,...