Tags Posts tagged with "e-commerce"

e-commerce

Tiga kekuatan besar–Lazada, Uber, dan Netflix–menjalin koalisi yang saling menguntungkan dalam menggarap pasar Asia Tenggara. Kerja sama strategis ini diwujudkan dalam program LiveUp dan akan dimulai dari Singapura.

Dikutip dari Straits Times, LiveUp merupakan program keanggotaan yang ditawarkan kepada para konsumen di Asia Tenggara dengan berbagai keuntungan untuk layanan Lazada, RedMart, Netflix, Uber, UberEats, dan Taobao Collection.

Contohnya, langganan Netflix selama enam bulan, diskon 10 persen di Lazada, dan diskon SG$10 pada setiap perjalanan ke-10 dengan Uber. Masih ada pula opsi pengiriman barang gratis atau ekspres dari Lazada dan Taobao (online marketplace milik Alibaba, induk perusahaan Lazada) dan RedMart (layanan supermarket online yang dibeli Lazada tahun lalu).

Untuk menjadi anggota LiveUp, konsumen harus membayar biaya tahunan sebesar SG$28,80 (sekitar Rp274.000) pada tahun pertama dan SG$49,90 (sekitar Rp475.000) pada tahun-tahun selanjutnya.

Alexis Lanternier (CEO, Lazada Singapore) menyatakan, “Kami yakin mayoritas penduduk di Singapura telah menggunakan salah satu layanan (LiveUp), tapi belum mencoba layanan-layanan lainnya. Dengan program ini, mereka bisa mencoba setiap layanan.”

Program ini juga dipandang Lanternier lebih unggul ketimbang program keanggotaan Amazon Prime yang bakal diluncurkan di Singapura tahun ini. Program dari Amazon itu meliputi layanan streaming musik tanpa iklan, akses menonton film dan serial televisi, serta gratis ongkos kirim untuk transaksi di situs belanja online Amazon.

Setelah LiveUp hadir di Singapura, Lazada sedang menggodok jenis kolaborasi sejenis untuk diperkenalkan di negara-negara Asia Tenggara lainnya. Di Indonesia sendiri, Lazada pernah bekerjasama dengan Go-Jek dalam hal pengiriman barang pada hari yang sama.

Raksasa produk rumahan Unilever dan Lazada minggu lalu menandatangani kesepakatan untuk melakukan kolaborasi lebih erat dalam menggarap pasar Asia Tenggara. Melalui kerjasama ini, kedua perusahaan akan bekerja sama di bidang suppy chain, fulfillment, data, marketing, social commerce, dan talent development untuk menggarap pasar Asia Tenggara yang diperkirakan akan mencapai  US$25 milyar di tahun 2020.

Segmen Fast Moving Consumer Goods (FMCG) sendiri saat ini menjadi andalan baru Lazada. Pada tahun 2016 kemarin, penjualan di segmen ini meningkat 181 persen dibanding tahun sebelumnya. Dengan bekerjasama dengan raja produk FMCG seperti Unilever, Lazada berharap bisa semakin berkibar di segmen ini.

Sedangkan bagi Unilever, kerjasama ini juga akan membuat penetrasi mereka di pasar Asia Tenggara semakin terasa. “Belanja online akan menjadi trend masa depan, sehingga potensinya akan sangat menarik” ungkap Pier-Luigi Sigismondi, Unilever President for South East Asia and Australasia. Apalagi, penjualan produk Unilever di Asia Tenggara menunjukkan  peningkatan yang signifikan. Penjualan produk Unilever bulan Maret 2017 sama besarnya dengan seluruh penjualan di tahun 2016. Unilever pun yakin, kerjasama dengan Lazada akan meningkatkan penjualan online tiga kali lipat dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Meski kerjasama ini menyangkut strategi di segmen online, Unilever melihat kolaborasi mereka dengan Lazada juga akan menguntungkan bagi penjualan di toko konvensional. Salah satunya, mereka bisa menguji produk baru secara online. Jika penerimaaan konsumen bagus, berarti produk tersebut memiliki kesempatan bagus untuk dipasarkan secara offline.

Asia Tenggara sendiri digadang-gadang akan menjadi kawasan penting untuk e-commerce di masa mendatang. Hal ini bisa dilihat dari persentase penjualan online yang baru 2,5% dibanding keseluruhan penjualan retail. Angka ini masih jauh di bawah penjualan online di Tiongkok, misalnya, yang mencapai 12%.

Namun pasar Asia Tenggara juga menyimpan permasalahan yang unik. Kondisi geografis yang luas, serta masih minimnya penetrasi kartu kredit di banyak negara Asia Tenggara, adalah beberapa kendala bagi perusahaan e-commerce untuk menembus kawasan ini.

Seperti kita ketahui, dalam satu dekade terakhir Indonesia menjadi incaran perusahaan-perusahaan e-commerce dan pemodal ventura (venture capital) global. Perusahaan-perusahaan itu masuk melalui berbagai model bisnis, antara lain modal ventura, akuisisi, patungan (joint venture), perwakilan, dan lain sebagainya.

Pertanyaannya, mengapa Indonesia menjadi incaran mereka? Spire Research and Consulting, perusahaan riset dan konsultasi bisnis global yang berbasis di Singapura, bekerja sama dengan perusahaan riset dan media bisnis teknologi terkemuka TechnoBusiness Indonesia, memetakan ada lima alasan kuat mengapa perusahaan-perusahaan e-commerce global harus masuk ke pasar Indonesia.

1. Pasar Potensial
Jumlah penduduk Indonesia yang menurut Badan Pusat Statistik mencapai 254,9 juta jiwa jelas merupakan pasar yang besar. Tidak hanya besar, penduduk Indonesia juga tergolong konsumtif alias doyan belanja. Nilai penjualan ritel e-commerce dunia yang mencapai US$1.336 triliun pada 2014 dan melesat menjadi US$2.050 pada 2016, sebagian besar disumbangkan dari Asia Pasifik, termasuk Indonesia. Pada 2016, seperti disebutkan eMarketer, Asia Pasifik menyumbangkan transaksi e-commerce sebesar US$1.152,21 triliun dan Indonesia US$5,29 triliun. Pasar e-commerce Indonesia tersebut meningkat dari US$1,94 miliar pada 2014 dan diperkirakan bakal tumbuh menjadi US$8,21 miliar tahun ini atau US$13,16 miliar pada 2019.

2. Dunia Baru
Bagi pasar Indonesia, e-commerce merupakan “barang baru”. Kehadirannya 10 tahun lebih lambat daripada di negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang serta negara-negara di Eropa. Sehingga wajar jika sampai saat ini masih banyak masyarakat yang ragu untuk berbelanja online. “Tetapi, karena baru itulah justru menjadi peluang besar bagi pemain-pemain e-commerce global untuk menanamkan investasinya di Indonesia sedini mungkin melalui berbagai cara,” kata Jeffrey Bahar, Deputy CEO Spire Research and Consulting Group.

3. Karakteristik Wilayah
Indonesia amat luas dan terbagi dalam ribuan pulau. Atas dasar itu, logistik barang-barang menjadi kendala. Harga barang di kawasan Indonesia Timur bisa 2-3 kali lipat lebih mahal ketimbang di Indonesia Barat. Dengan adanya e-commerce yang menawarkan satu harga dari mana saja, apalagi ditambah promo bebas biaya pengiriman (free delivery), masyarakat amat diuntungkan sehingga mudah beralih ke belanja online. Artinya, karakteristik pasar yang demikian sangat mendukung sistem e-commerce tumbuh pesat.

4. Kemampuan Pendanaan
Pemain-pemain e-commerce lokal biasanya menghadapi banyak kendala, terutama pendanaan. Model bisnis yang masih baru membuat pendiri (founder) kesulitan mendapatkan modal untuk mengembangkan e-commerce hasil inovasinya. Para pemilik uang dan perusahaan-perusahaan dalam negeri masih berpikiran kolot dengan mempertanyakan: “Apakah bisa balik modal?” “Karena itu, e-commerce-e-commerce lokal bisa menjadi „sasaran empuk‟ e-commerce global melalui proses pendanaan atau akuisisi demi menguasai ceruk pasar yang ada,” jelas Jeffrey.

5. Kecanggihan Teknologi
Karena rata-rata memiliki dana terbatas, maka secara otomatis e-commerce lokal juga kesulitan mengembangkan teknologinya. Padahal, teknologi menjadi tumpuan utama dalam berbisnis e-commerce. Sebagai contoh, berkat kecanggihan teknologi, sistem pembayaran tunai keras (cash) bisa diubah menjadi cicilan hingga 24 kali menggunakan kartu kredit selayaknya berbelanja offline. Teknologi pembayaran online (online payment gateway) yang memungkinkan bertransaksi secara aman juga amat diperlukan. “Siapa yang menguasai teknologi-teknologi e-commerce itu? Ya, raksasa e-commerce global,” ungkap Purjono Agus Suhendro, pengamat e-commerce yang juga CEO TechnoBusiness Indonesia.

Zalora dikabarkan bakal segera menarik diri dari pasar Indonesia. Seperti dilansir TechCrunch, situs e-commerce yang mengkhususkan diri di bidang fashion dan aksesoris itu sedang dalam proses pembicaraan dengan MAP, grup retail raksasa di Indonesia, terkait pembelian saham mayoritas atau akuisisi.

Jika berita ini benar-benar terjadi, Indonesia akan menjadi negara keempat di Asia Tenggara yang ditinggalkan Zalora.

Pada tahun lalu, Zalora telah menjual bisnisnya di Vietnam dan Thailand kepada Central Group, pemilik retail fashion terbesar asal Negara Gajah Putih. Sedangkan kemarin (23/2), Zalora mengumumkan penjualan 49% saham di Filipina kepada Ayala Corporation.

MAP sendiri sebetulnya sudah memiliki situs e-commerce sendiri, yaitu MAPEmall.com. Namun, produk-produk yang dijual di MAPEmall.com masih terbatas pada merek-merek yang memang hak pemasarannya di Indonesia dikuasai oleh MAP, seperti Zara, Mango, Marks & Spencer, Levi’s, dan Hush Puppies.

Selain itu, MAP menjalankan situs belanja online PlanetSports.net yang menawarkan produk-produk olahraga dari Nike, Reebok, Adidas, dan sebagainya.

Dengan mengakuisisi Zalora, MAP dapat memperkaya portofolio produknya dengan merek-merek di luar itu, sekaligus menambah jumlah pelanggan potensial di ranah belanja online.

Zalora Indonesia menawarkan ribuan koleksi merek busana lokal dan internasional serta lebih dari 90.000 produk pakaian, sepatu, tas, aksesoris, busana muslim, serta kosmetik untuk pria dan wanita.

Dikutip dari TechCrunch, Zalora mulai mengalami perlambatan bisnis pada tahun 2014 ketika Rocket Internet, inkubator bisnis yang mendirikan Zalora, membentuk GFG (Global Fashion Group) untuk mengelola bisnis e-commerce fashion di seluruh dunia.

GFG terdiri dari Zalora di Asia, Namshi di Timur Tengah, The Iconic di Australia dan Selandia Baru, Lamoda di Eropa Timur, dan Dafiti di Amerika Selatan. Kinerja dan prospek bisnis Zalora dipandang tidak secemerlang bisnis e-commerce di kawasan yang lebih dewasa, misalnya Timur Tengah. Walhasil, GFG memutuskan untuk menutup cabang-cabang Zalora satu per satu.

Saat ini, Zalora beroperasi di tujuh negara di Asia, yaitu Filipina, Indonesia, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Taiwan, dan Hong Kong.

Ilustrasi Amazon Go

Amazon memiliki ambisi besar untuk terjun ke pasar retail offline, mengingat Amazon sudah menguasai pasar e-commerce Amerika Serikat (AS) yang notabene-nya bergerak dalam bidang online.

Karena itu, Amazon memperkenalkan supermarket Amazon Go yang mengusung konsep futuristis dan menawarkan inovasi yang berbeda. Di dalam Amazon Go, pengunjung tidak perlu mengantre dan membayar barang belanjaan dengan uang cash. Mereka cukup datang, memilih barang, dan bisa langsung keluar. Lantas, bagaimana dengan pembayarannya?

Nah, Amazon membenamkan teknologi robot, kecerdasan buatan, dan sensor di seluruh toko Amazon Go. Teknologi ini digunakan untuk mengenali profil konsumen yang datang, barang yang dibeli, dan memasukkan tagihan ke akun Amazon-nya.

Supermarket canggih itu akan menjual beberapa item seperti daging, buah, dan sayur segar, telur, sampai obat-obatan.

Bahkan, seorang sumber mengatakan Amazon akan membuat supermarket yang lebih besar lagi dan sanggup menampung hingga 4.000 item, jauh lebih besar dari Amazon Go.

Supermarket Amazon itu memiliki luas antara 929 – 3.716 m2 itu dan Amazon akan mempekerjakan pramuniaga robot di dalamnya. Hasilnya, supermarket itu hanya melayani pelanggan dengan hanya tiga orang dan maksimal 10 orang.

Amazon dan robot bukanlah hal asing lagi karena Amazon telah mempekerjakan 45 ribu robot di gudangnya. “Amazon akan memanfaatkan teknologi robot untuk meminimalkan tenaga kerja,” ujar seorang sumber seperti dilansir Digital Trends.

Saat ini, supermarket Amazon Go sudah hadir di Seattle, kota tempat markas Amazon berada, sejak akhir tahun lalu.

Daniel Tumiwa, Chief Executive Officer OLX Indonesia dan Edward Kilian, Chief Marketing Officer OLX Indonesia, pada acara konferensi pers peresmian The All New OLX.

Istilah iklan baris online mulai populer sejak pertama kali OLX berdiri di Indonesia. Iklan baris online menyasar individu yang ingin menjual barang dari beragam kategori seperti mobil, properti, motor, gadget dan elektronik, fashion—baik barang yang baru maupun yang sudah tidak lagi digunakan—hingga menawarkan jasa.

Daniel Tumiwa (Chief Executive Officer, OLX Indonesia) mengatakan OLX telah menjadi platform iklan baris yang terbesar di Indonesia. Penjual telah mendapatkan manfaat berupa kecepatan menjual barang. Pembeli pun merasakan manfaatnya dengan mendapatkan tawaran harga yang sangat menarik

“Kita telah memasuki masa di mana kondisi pasar e-commerce sudah mulai terbaca dengan jelas,” kata Daniel di Jakarta, Selasa (7/2).

Belakangan, masyarakat terutama generasi millennial mulai tidak memahami dan mengenal model iklan baris. Hal itu disebabkan banyaknya jenis e-commerce yang bermunculan dan masyarakat hanya mengetahui istilah e-commerce atau online shop (toko online).

Padahal, fungsi platform, jenis barang, dan tipe penjual, di setiap jenis e-commerce berbeda satu sama lain.

Daniel mengatakan masyarakat pengguna mobile pun menyukai segala sesuatu bersifat visual, dinamis, simpel, dan praktis. Hal ini membuat bentuk iklan baris online saat ini tidak menarik bagi mereka.

“Bisnis OLX terus bertumbuh, namun mulai tidak relevan dengan kondisi pasar yaitu masyarakat mobile, terutama kalangan perempuan dan millennial. Mereka adalah orang-orang yang tertarik pada visual, mereka adalah treasure hunter yang membeli barang secara impulsif,” ujar Daniel.

“Hal ini membuat bentuk iklan baris online tidak menarik lagi. Di satu sisi, bisnis OLX terus tumbuh, sehingga perlu adanya tampilan aplikasi yang relevan bagi kalangan anak muda (millennial) dan perempuan,” katanya.

All-New OLX

Karena itu, OLX memperkenalkan tampilan baru All-New OLX dengan menampilkan rentetan fitur baru untuk mengikuti selera anak muda yang gemar berinteraksi di media sosial.

Daniel mengatakan tampilan All-New OLX ini akan memberikan kemudahan bagi pengguna yang ingin menjual barangnya yang sudah tidak terpakai lagi.

Tampilan All-New OLX mengusung empat konsep yaitu hyperlocal, hypersimple, C2C, dan trust. “OLX ingin memberikan manfaat yang maksimal kepada para pengguna lama ataupun baru. Empat konsep ini jadi pilar kami dalam perubahan penampilan OLX,” ungkap Daniel.

Tampilan All-New OLX baru terealisasi untuk smartphone berbasis Android dan belum ada perubahan pada tampilan di mobile web dan desktop. Sebagian besar pengguna mobile OLX membuka lamannya melalui smartphone berbasis Android.

Tampilan aplikasi All-New OLX Indonesia.

Halaman muka itu juga menampilkan konsep hyperlocal yang menampilkan barang-barang terdekat yang dijual di sekitar pengguna.

“Dengan tampilan muka semacam ini, para pengguna dapat bertransaksi dengan lebih praktis karena tidak perlu pergi terlalu jauh untuk melakukan cash on delivery (CoD),” katanya.

OLX juga mempermudah langkah untuk menjual barang dengan tidak mewajibkan penjual mengisi deskripsi sehingga proses menjual barang lebih simpel dan dapat diselesaikan hanya dalam tiga puluh detik.

Untuk keamanan, OLX juga mewajibkan penggunanya melakukan log-in dengan menggunakan akun Facebook atau Google sehingga profil pengguna dapat diketahui oleh calon pembeli atau penjual.

Dengan adanya tiga konsep tersebut, OLX optimistis makin banyak orang dapat memanfaatkan OLX untuk jual-beli, terutama untuk pengguna individu (customer to customer).

Daniel mengatakan OLX telah membantu 1,4 juta transaksi dengan nilai transaksi mencapai Rp31 triliun pada 2016. “Dibandingkan beberapa tahun lalu, angka tersebut meningkat drastis dan membuktikan bisnis ini berkembang,” ujarnya.

Menurut riset Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), ada 63,5 persen dari seluruh pengguna internet atau 84,2 juta orang telah memanfaatkan internet untuk melakukan transaksi online.

Jeff Bezos (CEO Amazon) dan Jack Ma (CEO Alibaba) ki-ka

Indonesia adalah negara yang seksi dan menarik bagi semua negara untuk datang dan berinvestasi di Indonesia. Jumlah populasi penduduk Indonesia yang banyak, tingginya daya beli masyarakatnya dan pengguna internet yang tembus 100 juta pengguna menjadi daya tarik tersendiri bagi para investor, khususnya dari sektor teknologi.

Tak kecuali perusahaan raksasa dunia Alibaba dan Amazaon yang ingin mencicipi manisnya pasar e-commerce di Indonesia. Tentunya, kehadiran dua raksasa e-commerce dunia mendatangkan kekhawatiran bagi pemain e-commerce lokal di Indonesia.

Maklum, Alibaba dan Amazon memiliki sistem manajemen yang sudah matang, dana pemasaran berlimpah, kekuatan logistik, dan kualitas SDM yang unggul.

Aulia E. Marinto (Ketua Umum Asosiasi E-Commerce Indonesia/idEA) mengakui Indonesia adalah pasar yang menarik bagi banyak investor dari belahan dunia dan tidak hanya dari e-commerce saja. Namun, sangatlah wajar jika perusahaan asing seperti Alibaba dan Amazon ingin mencicipi pasar Indonesia.

“Kita tidak bisa menolak masuknya perusahaan asing seperti Alibaba dan Amazon ke Indonesia karena mereka akan berinvestasi disini. Sebaliknya, jika ada salah satu perusahaan e-commerce di Indonesia, misal blanja.com ingin berinvestasi di Afrika. Apakah negara bersangkutan (Afrika) terganggu dan melarang kita? Tentunya tidak” katanya dalam ajang jumpa media Indonesia E-Commerce Summit & Expo (IESE) di Jakarta, Kamis (26/1).

Aulia mengatakan perusahaan e-commerce lokal siap bersaing dengan Amazon dan Alibaba yang ingin masuk ke Indonesia. Para pemain e-commerce lokal sudah memiliki kekuatan berupa dukungan pemerintah, jaringan, pengalaman, dan pelanggan sehingga lebih mengenal budaya dan persaingan e-commerce di Indonesia.

“Meskipun mereka (Alibaba dan Amazon) punya nama besar, apakah mereka akan langsung sukses dan besar di Indonesia dan membuat e-commerce lokal gulung tikar?” ujarnya.

“Tentu tidak! Jangan dikira mudah menjual barang, merintis, dan mengembangkan e-commerce di Indonesia. Alibaba itu cuma jago kandang dan besar di Tiongkok saja. Tidak jauh berbeda dengan Amazon yang perkasa di Amerika Serikat,” tegas Aulia.

Aulia melihat Amazon sangat perkasa karena memiliki gudang yang besar untuk menyimpan barang-barang pelanggan sehingga  menunjang faktor logistik. Amazon pun memiliki sistem pengiriman barang yang unik dengan mengantarkan barang dengan drone kepada pelanggannya.

“Indonesia adalah negara kepulauan dan tidak mudah berbicara distribusi logistik di Indonesia. Apakah mungkin Amazon akan mengirimkan barang dari Aceh ke Papua pakai drone? Jelas tidak mungkin,” ujarnya.

Persiapan dan Peran Pemerintah

Karena itu, kata Aulia, pemerintah dan para pemain e-commerce harus bersinergi untuk meningkatkan dan memajukan e-commerce lokal terlebih dahulu serta diiringi oleh akselerasi peningkatan penerimaan pajak dan pembangunan infrastruktur yang merata di Indonesia.

“Kesuksesan e-commerce sebuah negara ditunjang oleh faktor logistik. Kunci kesuksesan logistik terletak pada ketersediaan sarana dan prasarana infrastruktur. Disinilah, tugas pemerintah untuk meningkatkan pembangunan infrastruktur di Indonesia,” ucapnya.

“Kenapa Amazon sukses? Karena distribusi logistiknya sudah kuat. Terlebih Amerika bukan negara kepulauan, cukup dengan kereta, semua barang terkirim. Berbeda dengan Indonesia yang negara kepulauan. Untuk menghubungkan satu pulau dan pulau lainnya membutuhkan pembangunan infrastruktur yang lebih,” pungkasnya.

Hal senada diutarakan Triawan Munaf (Kepala Badan Ekonomi Kreatif/Bekraf). Triawan mengatakan pemerintah memiliki faktor yang penting untuk memajukan dan meningkatkan pasar e-commerce lokal di Indonesia.

Bekraf meminta pemerintah untuk membantu dan mendanai start-up lokal yang masih baru, mengingat mereka susah dalam faktor pendanaan. Kemudian, Bekraf mengatakan pemerintah harus membuat regulasi yang pro terhadap pemain e-commerce dan startup lokal.

“Untuk mengantisipasi pemain e-commerce asing yang mau masuk ke Indonesia, pemerintah harus mendanai modal startup rintisan karena mereka (startup rintisan) sangat sulit mencari modal untuk berkembang,” ucapnya.

“Bekraf pun bertugas untuk menyiapkan dan membimbing calon startup. Kami selalu menekankan para startup rintisan  harus mencari solusi atau produk yang dibutuhkan pasar Indonesia dan membuat produk spesifik yang mengangkat kearifan lokal,” kata dia.

Bekraf pun meminta pemerintah harus tegas kepada pemain asing yang beroperasi di Indonesia terutama dalam penerimaan pajak karena banyak pemain asing di Indonesia seperti Google yang tidak bayar pajak di Indonesia.

“Pemerintah harus memaksa mereka membayar pajak. Kalau tidak, kasihan dengan perusahaan lokal yang sudah membayar pajak,” pungkas Triawan.

Potensi dan Peta Jalan E-Commerce

Aulia menjelaskan pembicaraan dan diskusi peta jalan e-commerce di Indonesia terus berlangsung dan komunikasi terus dilakukan antar lembaga negara dengan Presiden RI.

“Dalam roadmap itu, ada sekitar 31 inisiatif dan tidak mungkin semua insiatifnya kelar dalam sebulan,” ujarnya.

Aulia melihat Indonesia masih memiliki potensi e-commerce yang luar biasa dan besar di Indonesia dan idEA memprediksi pertumbuhan e-commerce Indonesia bisa mencapai 30 – 50 persen pada tahun ini.

“Saat ini pengguna internet di Indonesia tembus 100 juta pengguna dan pengguna yang online shopper masih dibawah 10 juta. Jadi potensi pertumbuhan e-commerce masih sangat besar,” ujarnya.

rtb-house-office

RTB House, sebuah perusahaan teknologi yang memiliki spesialisasi dalam perancangan skenario retargeting yang beroperasi di seluruh dunia, kini memulai kerjasamanya dengan Zalora, layanan fashion online terkemuka di Asia.

Dengan dukungan teknologi platform retargeting RTB House, konsumen yang berbelanja online di Zalora akan mendapatkan layanan iklan dan penawaran khusus berdasarkan ketertarikan fashion dan pembelanjaan mereka. Semua kampanye retargeting personal bagi brand Zalora menerapkan kerjasama berbasis kinerja.

“Personalisasi adalah sebuah bagian terbesar dari pengalaman pelanggan. Pelanggan saat ini memiliki ekspektasi bahwa mereka akan menerima informasi yang sesuai dengan apa yang menjadi ketertarikan mereka, seraya informasi tersebut juga sesuai dengan selera dan gaya pribadi mereka,” kata Tito Costa, Chief Marketing Officer Zalora.

Zalora telah hadir di Singapura, Indonesia, Malaysia dan Brunei, Philipina, Hongkong dan Taiwan, Australia dan Selandia Baru. Zalora menawarkan koleksi-koleksi dari berbagai merek lokal dan internasional yang mencakup produk-produk apparel, sepatu, aksesoris dan produk-produk kecantikan untuk pria dan wanita serta telah berhasil mendefinisikan ulang sebuah toko fashion online di seluruh Asia dengan cara menyediakan gaya highstreet dan tren yang terbaik, teknologi yang inovatif dan layanan pelanggan.

“Kami senang dapat memulai kerjasama dengan Zalora, retail fashion online dengan pertumbuhan tercepat di Asia dan percaya bahwa teknologi retargeting RTB House mampu mengerti bagaimana caranya mencapai hasil yang maksimal bagi Zalora,” kata Jakub Ratajczak, Managing Director Asia Pasifik, RTB House.

Menurut eMarketer, penjualan retail e-commerce akan terus meningkat hingga mencapai USD 4,058 triliun pada tahun 2020 dan di Asia Pasifik akan menjadi pasar retail e-commerce terbesar di dunia selama kisaran periode tersebut, dengan harapan dapat mencapai penjualan lebih dari USD 2,725 triliun hingga tahun 2020.

“Pada umumnya, pasar Asia memang sangat mengikuti perkembangan teknologi dan cepat beradaptasi dengan inovasi terkini. Wilayah ini memiliki potensi yang sangat besar untuk teknologi retargeting. Kerjasama dengan Zalora Group merupakan sebuah konsekuensi alami dari ekspansi bisnis kami”, tambah Jakub Ratajczak.

Kesepakatan antara RTB House dan Zalora mencakup pasar Asia terutama Singapura, Malaysia, Indonesia, Philipina, Taiwan, dan Hong Kong. Kemitraan keduanya telah dimulai dari bulan Mei 2016 dan telah memperkuat pengalaman RTB House sebagai penyedia layanan retargeting personal untuk e-commerce.

Ilustrasi diskon palsu dalam perayaan harbolnas 2016

Ilustrasi diskon palsu dalam perayaan harbolnas 2016

Banyak peserta e-commerce yang memberikan beragam diskon palsu pada saat pelaksanaan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2016 yang berlangsung pada 12 – 14 Desember 2016. Padahal, pihak panitia Harbolnas 2016 telah mengimbau kepada para situs e-commerce untuk memberikan potongan harga yang sebenarnya.

Miranda Suwanto (Ketua Panitia Harbolnas 2016) mengakui banyak peserta Harbolnas 2016 yang melanggar dan menampilkan diskon palsu walaupun panitia tidak memberikan hukuman apa pun. Karena itu, seharusnya pelanggan lebih cermat dalam menimbang diskon atau tawaran yang datang oleh penjual di situs belanja online.

“Kalau masalah diskon, kami hanya bisa mengimbau peserta untuk memberi pelayanan terbaiknya dan kami tidak punya kekuatan hukum untuk memberikan sanksi. Konsumen pun harus pintar-pintar memilih barang. Misal, Kalau kita ke ITC, ke toko-toko dan tidak langsung beli. Hal begini juga mestinya kita lakukan saat belanja online,” katanya dalam acara paparan Hasil Penyelengaraan Harbolnas 2016, di Jakarta, Senin (19/12).

Pada salah satu situs e-commerce di Indonesia, produk Samsung Galaxy J1 berwarna putih dengan memori internal 4 GB dan RAM 512 MB ditawarkan dengan tinggi, yaitu Rp22 juta-an. Padahal saat diluncurkan, perangkat ini ditawarkan dengan harga sebesar Rp2,6 juta.

Tidak hanya terjadi pada perangkat elektronik, juga pada sejumlah kategori seperti otomotif. Salah satu unit yang juga hadir dengan penawaran harga lebih tinggi dari harga aslinya ditemukan pada unit kendaraan bermerek Yamaha.

Kendaraan roda dua bermerek Yamaha dengan seri NMax Abs hadir dengan harga setelah potongan harga sekitar Rp28 juta, dengan harga sebelum mendapat potongan harga sebesar Rp32 juta. Padahal, harga penjualan unit kendaraan ini di luar gelaran Harbolnas memang Rp28 juta.

“Panitia Harbolnas hanya gabungan dari e-commerce. Jadi kami kembalikan ke setiap e-commerce. Mereka yang dapat memberikan sanksi kepada seller yang menaikan harga tidak wajar,” ujarnya.

Namun, Miranda mengharapkan kasus diskon palsu ini tidak akan lagi terjadi di Harbolnas tahun depan dan panitia akan berkolaborasi dengan aparat penegak hukum untuk bisa memberikan sanksi langsung.

“Saat ini kami lebih menyerahkan ke masing-masing peserta untuk menegur seller yang melakukan itu (diskon palsu),” tegas Miranda.

Catherine Hindra Sutjahyo (CEO Alfacart.com) mengatakan pertumbuhan transaksi Alfacart.com terus mengalami pertumbuhan signifikan setiap bulannya dan layanan O2O

Catherine Hindra Sutjahyo (CEO Alfacart.com) mengatakan pertumbuhan transaksi Alfacart.com terus mengalami pertumbuhan signifikan setiap bulannya dan layanan O2O

Alfacart.com memperkuat strategi layanan Online-to-Offline (O2O) untuk meningkatkan kualitas layanan Alfacart.com, baik terhadap konsumen maupun mitra penjualnya. Alfacart.com mempererat kolaborasinya dengan Alfamart untuk membangun jaringan yang luas dan meningkatkan mutu layanan serta memperluas jangkauan bisnisnya.

Hingga penghujung 2016, Alfacart.com telah bersinergi dengan 8.000 toko Alfamart untuk menyediakan layanan pengambilan barang (pick up point) dan sebanyak 12.389 toko Alfamart untuk menyediakan layanan pembayaran langsung di kasir toko setempat (pay at store).

Catherine Hindra Sutjahyo (CEO, Alfacart.com) mengatakan pertumbuhan transaksi Alfacart.com terus mengalami pertumbuhan signifikan setiap bulannya dan layanan O2O yang menjadi andalan strategis kami untukmendorong masyarakat Indonesia kian meminati transaksi online.

“Kolaborasi sinergis ini menjadikan Alfacart.com sebagai pelaku e-commerce dengan jaringan O2O terbesar di Indonesia,” kata Catherine.

Industri e-commerce Indonesia menghadapi berbagai tantangan seperti persoalan logistik, pembayaran, infrastruktur, hingga persoalan masih rendahnya tingkat kepercayaan masyarakat dalam berbelanja online.

“Layanan O2O dapat menjawab berbagai tantangan tersebut. Jaringan distribusi Alfacart.com menjamin pengiriman barang aman dan dapat menjangkau hingga ke wilayah yang selama ini belum terjangkau oleh layanan logistik pada umumnya,” ujarnya.

Hingga Desember 2016, sebanyak lebih dari 8.000 toko Alfamart telah siap memberikan dukungan layanan Delivery & Pick Up Point untuk pengiriman barang dari Alfacart.com dan pengambilan barang secara langsung oleh pelanggan.

Alfacart.com akan terus melakukan inovasi-inovasi layanan O2O-nya sehingga konsumen akan semakin mendapatkan kemudahan serta kenyamanan dalam berbelanja melalui Alfacart.com. Inovasi layanan berbasis O2O yang akan dikembangkan berikutnya di tahun 2017 adalah penyediaan fasilitas Return Point dan Purchase Point.

Jawa Timur, Pasar Terbesar Alfacart.com

Jawa Timur khususnya Malang dan Sidoarjo tercatat sebagai pasar paling besar bagi Alfacart.com. Secara wilayah, Jawa Timur menjadi pasar terbesar (42%), Jabodetabek (33,69%), dan Jawa Tengah (17,66%). Untuk peringkat perkota, Malang menjadi kota dengan jumlah transaksi terbesar pertama (12,061%) dan Sidoarjo berada di posisi ketiga (6,061%) setelah DKI Jakarta (14,212%).

“Kami menemukan fakta bahwa pasar e-commerce tidak lagi hanya terkonsentrasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Malang, Sidoarjo, Rembang, Klaten, Pontianak, dan Makassar menjadi pasar yang favorit. Kami akan menghadirkan layanan yang sesuai dengan karakteristik kebutuhan mereka yang sangat beragam,” ujar Ernest Tjahjana (CCO, Alfacart.com).

Produk Terlaris

Pelanggan Alfacart.com menempatkan kategori produk kebutuhan rumah tangga sehari-hari atau groceries di posisi teratas dalam aktivitas berbelanja mereka (48,4%). Di posisi berikutnya, produk-produk pendukung gaya hidup menempati posisi kedua (33,08%), disusul gadget dan elektronik (11,67%) dan fashion (6,85%).