Find Us On Social Media :

AS-Iran Bergejolak, Harga Bitcoin Meroket

By Adam Rizal, Kamis, 9 Januari 2020 | 09:30 WIB

Bitcoin

Asosiasi Blockchain Indonesia (ABI) menyebut saat ini ada dua stigma negatif yang membuat orang Indonesia masih takut ketika ingin mengimplementasikan bitcoin dan blockchain.

Direktur Eksekutif ABI Muhammad Deivito Dunggio mengatakan, masih banyak masyarakat Indonesia menganggap bitcoin sebagai pendanaan teroris dan pencucian uang. Hal ini menjadi salah satu tantangan untuk mengembangkan catatan transaksi digital di Indonesia.

"Tantangan terbesar adalah stigma dan miskonsepsi yang masih melekat terhadap Bitcoin dan blockchain sendiri. Bitcoin sudah sangat terstigma dengan penggunaan pendanaan terorisme dan pencucian uang," kata Deivito kepada awak media usai acara konferensi pers Empowering Blockchain Summit 2019 di Jakarta.

Padahal, penggunaan teknologi blockchain sebenarnya tidak terbatas pada cryptocurrency saja. Blockchain adalah teknologi yang menawarkan banyak kelebihan untuk implementasi pencatatan digital. 

"Semua bentuk transaksi yang butuh pencatatan, pasti bisa menggunakan teknologi blockchain ini. Mulai dari kesehatan, charity, sampai supply chain, semuanya itu butuh pencatatan jadi itu semua sangat cocok digunakan blockchain," ujar Deivito.

Kendati demikian, ABI mengakui bahwa tingkat literasi masyarakat soal blockchain khususnya masih sangat rendah di Indonesia bahkan belum menyentuh angka satu persen.

"Literasi bisa saya bilang sangat rendah, belum satu persen. Hal ini yang menjadi dasar mengapa asosiasi ini berdiri, yaitu untuk meningkatkan literasi," tutur Deivito.

Selain itu, ABI berharap tahun 2020 tingkat perusahaan rintisan berbasis blockchain di Indonesia makin bertambah. Sebab, menurut catatan ABI, sebagian besar startup masih berkecimpung di perdagangan aset kripto.

"(Sebanyak) 70 persen [startup] perdagangan kripto aset. Sisanya adalah perusahaan supply chain, perpajakan, dan manajemen data," pungkas Deivito.