Find Us On Social Media :

Arman Hazairin: Akrab dengan Perubahan

By Liana Threestayanti, Selasa, 24 April 2018 | 20:04 WIB

Arman Hazairin (Chief Technology Officer TCash)

Bukan tanpa sebab jika Arman Hazairin (Chief Technology Officer TCash) melihat kemiripan antara dirinya dengan Don Corleone, tokoh sentral dalam film The Godfather. Seperti Corleone yang sebenarnya orang baik dan ingin menarik diri dari bisnis mafia, Arman sebenarnya sudah merasa cukup bergulat di industri telekomunikasi.

Namun setiap kali ia berniat keluar, ada saja yang membuatnya kembali. Bahkan ada satu kalimat Don Corleone yang diingat betul oleh Arman, ‘everytime I want to get out, they pull me back again’.

“Nah ini mirip dengan saya!” ujar Arman seraya tertawa.

Setiap kali ia berniat mencicipi bidang lain, di saat itu pula ada tugas baru menanti. Namun Arman mengaku beruntung karena dari setiap penugasan itu, ada saja output transformatif yang ia inisiasi.

Misalnya di tahun 2007, ketika minta dipindahkan dari divisi teknologi Telkomsel karena sudah satu dekade ia berada di sana, Arman malah diberi tugas menangani customer lifecycle management.

“Salah satu output yang saya formulasikan adalah klasterisasi area sales Telkomsel, yang sampai sekarang masih dipakai” jelas Sarjana Elektro lulusan Institut Teknologi Bandung ini.

Sebelumnya, tahun 2000, ketika Telkomsel melakukan transformasi pertama kali, Arman ditugaskan menjadi salah satu Head of Strategic Initiative Enabling Infrastructure. Selama dua tahun, ia memimpin timnya mentransformasi sistem TI Telkomsel. Dan salah satu hasil yang patut dibanggakan oleh timnya adalah billing system customer care dan masterplan TI Telkomsel.

Dalam penugasan di PT Infomedia Nusantara, selaku Contact Center & Outsourcing Services, ayah dua anak ini diminta menjalankan bisnis yang agak berbeda, yakni call center. Namun tetap saja transformasi yang diinisiasi Arman tak jauh-jauh dari teknologi. “Saya mendigitalkan bisnisnya Infomedia,” ceritanya.

Cukup di Ponsel

Rasanya tak salah jika kemudian manajemen PT Telekomunikasi Seluler sejak tahun lalu menempatkan Arman Hazairin sebagai Chief Technology Officer di unit bisnis TCash. Dengan ambisi menjadi alat pembayaran mobile nomor satu di Indonesia, TCash memiliki banyak tantangan.

Yang utama adalah memperkuat basis pelanggan sekaligus menjadikan layanannya sebagai preferensi utama konsumen ketika melakukan pembayaran. Tentunya, dengan menggunakan teknologi sebagai tulang punggungnya.

Untuk menjadikan TCash sebagai pilihan utama untuk melakukan pembayaran, menurut Arman, tak ada cara selain membiasakan konsumen menggunakan uang elektrik berbasis aplikasi tersebut.

Sebelumnya TCash sudah bermain di area pembayaran tagihan (bill payment) yang sifatnya bulanan. Untuk meningkatkan frekuensi penggunaannya, mobile money ini mulai ditawarkan untuk pembayaran pulsa dan transportasi. Tak berhenti di situ, kini TCash menyasar penggunaan yang frekuensinya lebih sering lagi, misalnya untuk membeli makanan sehari-hari di warung.

“Orang itu lebih ingat bawa handphone daripada bawa dompet. Jadi, kenapa tidak kita selesaikan semua (transaksi) di handphone saja” Menunjang kemudahan transaksi tersebut, sejak tahun lalu TCash mulai mengalihkan transaksi sepenuhnya ke perangkat mobile dengan Quick Response Code atau lebih kita kenal sebagai QR Code.  

“Orang itu lebih ingat bawa handphone daripada bawa dompet. Jadi, kenapa tidak kita selesaikan semua (transaksi) di handphone saja,” tandas Arman.

 Dari sisi penyedia layanan dan merchant, penggunaan QR Code juga berarti mengurangi ketergantungan pada mesin EDC. Roll out-nya juga mudah, hanya dari satu perangkat mobile ke perangkat mobile lainnya. Walhasil adopsi TCash bisa dilakukan di mana saja, termasuk di warung-warung kecil. Hal ini diharapkan dapat mengakselerasi saluran cash in dan cash out dari TCash. Akan tetapi, di situ pula tantangan terbesar TCash.

“(Tantangan itu) Di adopsinya. Bagaimana kami bisa membuat warung-warung, misalnya, mau menerima isi ulang TCash,” jelasnya, karena hal itu berhubungan dengan kenyamanan pelanggan. Apalagi mengingat visi TCash untuk menjangkau masyarakat yang belum tersentuh layanan perbankan.

“Ini salah satu mimpi kami, TCash harus bisa melayani seluruh populasi (masyarakat) Indonesia. Dengan membuat mereka masuk ke platform TCash, mereka bisa menikmati layanan keuangan, baik (layanan) dari TCash maupun (layanan) dari yang bekerjasama dengan TCash,” ujar Arman lagi.

TCash bukan hanya cara pembayaran. Uang elektrik ini bisa dimanfaatkan misalnya untuk mendistribusikan bantuan tunai sosial ke masyarakat dengan lebih mudah dan terkontrol.

Tim Mandiri

Untuk mengakselerasi penggunaan uang elektrik ini, ada dua hal yang dilakukan divisi Teknologi TCash. Pertama adalah melakukan migrasi ke platform yang lebih modern. Dan yang kedua, dan ini yang menarik, TCash membangun tim baru yang lebih andal, lebih besar, dan independen.

Arman mengakui hal ini sebuah hal baru mengingat Telkomsel terbiasa bekerja a la desainer. “Kami innovate, develop, trial test, dan begitu (sistem) jadi besar, kami cari partner. Telkomsel tidak didesain untuk me-maintain,” ungkap pria penyuka aktivitas outdoor ini.

Namun di kancah financial technology (fintech), arena “bermain” TCash, hal itu tak bisa diterapkan. Di dunia fintech yang kebanyakan diisi oleh perusahaan rintisan (startup), kecepatan adalah kunci suksesnya. Menyadari hal itu, TCash pun membesarkan dan membangun tim teknologinya, khususnya yang menangani platform dan aplikasi. Langkah ini mutlak harus dilakukan agar layanannya bisa lebih gegas bergerak dan masuk ke pasar.

Di kantor yang terpisah dari induknya, yaitu Telkomsel, TCash juga menerapkan budaya kerja a la startup. Arman Hazairin mengaku tak canggung untuk memimpin tim yang terdiri dari anak-anak muda, bahkan generasi millennial. Hal ini tak lepas dari pengalamannya di Infomedia, yang harus membawahi 20 ribu karyawan yang usianya rata-rata baru menginjak dua puluhan.

Telkomsel sendiri sangat serius untuk membesarkan TCash. Hal ini tercermin dari target kenaikan pelanggan yang berkisar di angka 300-400% untuk tahun 2018 ini. Namun di tangan “maestro” perubahan seperti Arman Hazairin, jangan kaget jika target tersebut mulus teraih.