Find Us On Social Media :

Public Cloud VS On-premise Data Center: Mana yang Harus Anda Pilih?

By Administrator, Selasa, 26 Juni 2018 | 08:00 WIB

Adopsi cloud computing di seluruh dunia menunjukkan tren positif dari tahun ke tahun. RightScale 2017 The State of Cloud Report mengungkapkan 95 persen dari 1.002 orang IT professional dari berbagai belahan dunia—termasuk 14 persen di antaranya dari Asia Pasifik—mengatakan mereka telah menggunakan cloud computing. Angka tersebut naik dua persen dari dua tahun sebelumnya.

Geliat adopsi cloud bahkan lebih terasa di Indonesia. Seperti diungkap Business Wire, Indonesia akan menjadi negara dengan pertumbuhan adopsi cloud terbesar di ASEAN. Konsumsi mobile yang terus meningkat serta kebutuhan akan DRC (Disaster Recovery Center) menjadi faktor kunci peningkatan adopsi cloud di Indonesia.

 Semua data tersebut menunjukkan, semakin banyak perusahaan Indonesia yang telah dan akan mengadopsi cloud computing. Namun di balik “euforia” tersebut, sebenarnya kita harus tetap kritis terhadap teknologi cloud. Karena seperti teknologi lain, cloud sebenarnya juga memiliki keterbatasan.

Kemungkinan Resiko dalam Implementasi Cloud

Sebelum membahas lebih jauh, penting untuk diingat bahwa bukan berarti public cloud memiliki kualitas buruk. Hanya, Anda tidak seharusnya memutuskan untuk menggunakan public cloud hanya karena layanan teknologi tersebut sedang menjadi tren. Ada beberapa risiko yang harus Anda pertimbangkan sebelum memilih public cloud, yaitu:

  1. Kurang memperhatikan model bisnis

Salah satu keunggulan yang dimiliki oleh public cloud adalah biaya awalnya yang relatif lebih murah jika dibandingkan dengan data center on-premise. Namun, seiring berjalannya waktu, bisnis Anda akan membutuhkan kapasitas transfer data yang semakin besar. Ketika itu terjadi, biaya yang harus Anda keluarkan untuk public cloud akan terus mengalami peningkatan.

Artinya, Anda yang harus menyesuaikan running cost seiring bertambahnya kapasitas sehingga pada akhirnya—jika ditotal—Anda harus membayar lebih mahal untuk public cloud jika dibandingkan dengan on-premise.

  1. Tidak memperhatikan struktur desain bisnis Anda

Public cloud memang menyediakan solusi bagi bisnis untuk menyimpan berbagai data krusial perusahaan Anda. Sayangnya, tidak semua public cloud juga mampu memenuhi kebutuhan keamanan bisnis Anda. Alhasil, jika memang ingin mengamankan seluruh data perusahaan, mau tak mau Anda harus mengeluarkan biaya lebih untuk meningkatkan keamanan

Perbandingan antara public cloud dan on-premise 

Setiap pilihan memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri, begitu pula dengan public cloud maupun on-premise. Agar Anda bisa mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai kelebihan dan kekurangan kedua pendekatan tersebut, berikut adalah perbandingan keduanya.

  1. Public cloud: kelebihan dan kekurangan

Kelebihan:

Kekurangan:

Tabel 1: Kelebihan dan Kekurangan Public Cloud

  1. On-premise data center: kelebihan dan kekurangan

Kelebihan:

Kekurangan:

Tabel 2: Kelebihan dan Kekurangan On Premise/Private Cloud

Hybrid cloud sebagai solusi potensial

Ketika pendekatan on-premise dan cloud masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, Anda sebenarnya tidak perlu memilih salah satu. Anda bisa mendapatkan kelebihan dari dua pendekatan tersebut, sekaligus meminimalisir kekurangan keduanya. Sistem yang disebut hybrid cloud inilah yang belakangan menjadi pilihan banyak perusahaan dalam memenuhi kebutuhan infrastruktur TI-nya.

Saat menggunakan hybrid cloud, perusahaan pada intinya menggunakan data center on-premise dan cloud secara bersamaan. Proporsi keduanya sendiri dinamis, disesuaikan dengan kebutuhan perusahaan. Beberapa faktor yang biasanya menentukan adalah:

  1. Compliance. Bagi perusahaan yang highly regulated seperti perbankan, kesempatan menggunakan layanan cloud menjadi lebih terbatas. Karena itu, proporsi data center-nya akan lebih berat ke on-premise.
  2. Karakter Aplikasi. Jika sebuah aplikasi harus mudah diakses dari mana saja dengan jumlah hits yang dinamis, biasanya lebih efisien jika menggunakan cloud. Sementara jika aplikasi tersebut melibatkan lalu-lintas data yang besar, on-premise biasanya lebih cocok.
  3. High Availability. Pendekatan cloud bagaimana pun mutlak harus dibarengi koneksi internet yang andal. Namun mengingat internet di Indonesia belum sepenuhnya memadai, perusahaan harus melihat seberapa penting availability sebuah aplikasi. Jika harus always on, pendekatan on-premise masih menjadi pilihan terbaik.

Tentu saja, pendekatan hybrid cloud ini tetap memiliki keterbatasan. Salah satunya adalah kemudahan pengelolaan mengingat perusahaan harus mengelola data center on-premise dan cloud secara bersamaan. Namun jika menimbang kelebihan dan kelemahan dari masing-masing pendekatan di atas, boleh dibilang hybrid cloud menjadi pilihan paling optimal saat ini.

Ingin tahu lebih banyak bagaimana hybrid cloud bisa membantu perusahaan Anda? Silakan cukup klik di sini (gratis download).